Menanti Film Ketika Cinta Bertasbih
Mari kita sama-sama insyaf
Cinta sejati itu tidak menzalimi
Cinta sejati berorientasi ridha Ilahi
Allah Allah Allahu Rabbi
Aku cinta dirimu duhai bidadari
Tapi aku lebih cinta Tuhanku, Ilahi, Rabbi
- Ketika Cinta Bertasbih, Habiburrahman El Shirazy
Sungguh indah barisan lirik lagu ciptaan Kang Abik di novel “Ketika Cinta Bertasbih” di atas.
Dinyanyikan tokoh Fadhil yang asal Aceh. Dan mungkin lebih indah lagi bila novel tersebut difilmkan.
Ya, perbedaan antara “Ayat-ayat Cinta” dan “Ketika Cinta Bertasbih” adalah sudut pandang tokoh utama. Ayat-Ayat Cinta menggunakan sudut pandang orang pertama di novelnya. Kalo “Ketika Cinta Bertasbih” menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Jadi selama membaca AAC, kita seakan-akan menjadi Fahri sendiri, mengalami hari-hari yang sangat panas di Kairo sana. Itu adalah kelebihan novel AAC yang juga tak lepas dari gangguan sifat 1st person perspective-nya yang membuat kita tegang dalam menanti kejadian yang terjadi berikutnya.
Tapi, di filmnya. Saya lihat sangat bertolak belakang dengan novelnya. Film AAC menggunakan sudut pandang orang ketiga.
Bagi saya yang sangat terpaku dan terpukau oleh keindahan novel AAC, seakan-akan melihat sesuatu yang baru.
Seharusnya, film AAC embel-embelnya “terinspirasi oleh novel AAC” aja, bukannya “diangkat dari novel AAC”.
Jujur, saya sangat kecewa dengan film AAC. Masa anak Al-Azhar Kairo kok kayak gitu sifatnya, suka guyon. Terus juga berkhalwat sama Maria.
Penggambaran lokasi dan tokohnya juga nggak detil, mengecewakan. bla… bla…
Yah, mekipun begitu harus dihargai. Nih film udah merupakan katalis film-film bermoral yang akan menghiasi layar lebar kita nanti. Dan bisa menarik minat saya untuk nonton bioskop lagi.
Tapi afwan lho Mas Hanung, kayaknya sampeyan sebenernya cuma cocok nyutradarain film-film drama-komedi deh.
Nggak usah ngotot mau nyutradarain KCB, nanti hasilnya payah lagi. Kang Abik rupanya paham.
Mas Hanung Bramantyo
Baca artikel di Show & Selebriti Jawa Pos hari Selasa, 25 Maret 2008 kemarin…
keinginan Hanung Bramantyo untuk memfilmkan novel laris “Ketika Cinta Bertasbih” gagal terwujud. Rumah produksi SinemArt telah menggandeng sutradara senior Chaerul Umam untuk menggarap film yang diangkat dari karya lain penulis novel “Ayat-ayat Cinta” (AAC).
Juga keterangan pers Pak Chaerul Umam di Show & Selebriti Jawa Pos hari Rabu, 26 Maret 2008…
Filmnya akan sama persis dengan novel. Nanti ketika nonton film, orang seperti sedang membaca novel…
Sejumlah syarat sudah ditetapkan. Diantaranya, calon pemain harus sudah membaca novel KCB, bisa mengaji, dan berkepribadian tidak jauh beda dengan tokoh yang dimaksud.
Saya cuma bisa bilang, “Subhanallah”. Janji Kang Abik waktu Seminar Pergaulan Islam JMMI-ITS itu akan direalisasikan.
Ya, mungkin bagi Pak Chaerul Umam, memfilmkan KCB lebih mudah karena sudut pandang dan gaya penceritaan dalam novel yang terbagi jadi dwilogi itu sangat mirip script sebuah film.
Pak Chaerul Umam
Kenapa ya saya jadi ingat “Babel“, film yang dibintangi Brad Pitt yang sangar itu?
Ya, KCB alurnya seperti itu. Apa yang dialami seseorang beserta tindakannya saling berkaitan dengan tokoh-tokoh lain dalam novel ini.
Contohnya, keengganan Furqan untuk bertemu dengan Sara yang mengakibatkan dia kena virus HIV oleh mata-mata Mossad (Intelijen Israel). Ndilalah, si Azzam malah sempat satu bangku di pesawat menuju Indonesia dengan putri seorang Professor ternama di Mesir itu, dan menyatakan pengen ketemu dengan ayah Sara yang Azzam kagumi itu.
Kisah di KCB juga lebih dipenuhi gejolak cinta yang menyentuh. Tapi akhirnya para pencinta itu bisa menahan diri karena Allah.
Yah, semoga semua janji Pak Chaerul Umam juga bisa direalisasikan. Karena saya pengeeeen banget liat Kairo dan Alexandria di film Indonesia. Kota-kota yang sangat indah. Rupanya, kesalahan Mas Hanung tidak bisa syuting di Mesir adalah tidak adanya koneksi.
Gimana mau ada koneksi? Lha wong produser film AAC aja orang India yang non-muslim.
Afwan… Lagi-lagi saya menyindir.
Yah, begitulah sikap orang yang kecewa dengan versi filmnya.
Afwan ya.
Sebenernya foto-foto Mesir jepretan Akhi Adi Jaya sudah lumayan membantu. Tapi dasar saya emang manusia sejati, nggak puas kalo cuma dapet gambar-gambar yang mati.
Wallahu a’lam. Semoga film KCB lebih bagus daripada AAC. Dalam segala aspek deh kalo bisa.
Jazakallahu khairan…
Pemeran KCB versiku :
- Azzam = (belum tahu… lebih baik anak lulusan Al-Azhar Kairo dari Jawa Tengah)
- Furqan = Fauzi Baadillah
- Anna = Zaskya Adya Mecca (atau anak lulusan Al-Azhar Kairo asal Jawa Tengah juga))
- Eliana = Sandra Dewi
- Ilyas = Fedi Nuril
- Husna = (anak Lembaga Dakwah Kampus)
- Miss Italiana = Nadine Chandrawinata
Hidup film Islami!!
Hidup Al-Azhar University!!
Hidup ikhwan dan akhwat yang anti-pacaran!!
Hidup Al-Qur’an dan Hadist!!
Hidup Palestina!!
Hidup Brigade Izzeddin Al-Aqsa!!
Allahu Akbar!!
Berikut ini link yang terkait dengan Film Ketika Cinta Bertasbih :





Kiki Ahmadi berkata,
27 Maret, 2008 @ 11:34 pm
kok gak ada hidup ITS?
: P
Hasan Seru berkata,
30 Maret, 2008 @ 10:40 pm
yaelah, pandanganku persis kayak aku… beneran nih! ini kedua kalinya aku bertemu orang yang pemikiran ada yang mirip denganku… dulu aku pernah ketemu orang yang amat sanagt mirip denganku, dari segi kuliah, sifat dan tetek bengeknya… sekarang masih kontak2an dan saling share karena secara kita tau sifat masing2…
Aku lebih sreg aja ketika KCB disutradarai oleh Chaerul Umam. Aku males aja ngelihat Hanung, maaf kelihatan sombongnya dan jawaban2 sok bijak, maaf nih… waktu diwawancarai ttg film AAC yang disoorot malah Hanung dan pemain2nya, knp bukan tokoh dibailk ini semua, yaitu Kang ABik…
entahlah… btw aku pengen casting jadi Hafez, karakternya mirp denganku, hehee
Hasan Seru berkata,
30 Maret, 2008 @ 10:42 pm
eh maksudnya pandanganmu persis kayak aku
hmcahyo berkata,
7 April, 2008 @ 8:43 am
@ “Hidup Brigade Izzeddin Al-Aqsa!!”
Lho apa hubungannya dengan ketika cinta bertasbih
taufiq hidayat berkata,
14 April, 2008 @ 11:46 am
cepetan dong…mas aku dah penasaran nih ma film nya ketika cinta bertasbih al nya aku suka banget ma novelnya …..allah bersamamu jika kamu ingin islam tetap jaya
iksan jaya berkata,
22 April, 2008 @ 9:38 pm
ass…
bener bgt tuh film AAc besutan mas hanung memang ngecewain bgt.sy tuh koq bisa fahri digambrkn bgtu cengengnya, jd malu gue ngeliat nya.
tambahan lagi ahlak fahri sgt tdk keliatan,klu cuma kayak yg difilm gak mgk deh maria,aisha,noura n nurul sampe jatuh bngun mendambakan seorang suami kayak fahri.apa krena ganteng nya? gak bgt deh, orang mesir tentnya lebih banyak yg lebih, lebih ganteng lagi. yakinlah ahlak fahri yg luar biasalah yg membuat gadis2 itu jadi terpesona kpd fahri.
Sultani Palekeri berkata,
24 April, 2008 @ 9:15 am
Assalamu Alaikum Wr. Wb.
Ihwan wal akhwat,, terus terang saya sangat bersyukur pada saat saya mendengar kalau ada filem AAC yang di ambil dari sebuah Novel pembangun jiwa yang sangat laris manis itu, sehingga saya berusaha mencari CD/DVDnya walaupun dalam kwalitas bajakan, karena sebelumnya saya sudah membaca novelnya sampai selesai. Dan setelah saya menonton filemnya ternyata jauh lebih menarik dan menyentuh Novelnya daripada Filemnya. Setelah saya membaca novelnya, subuhanallah,,, seorang Fahri, seorang muslim yang langka,,, sebagai seorang pemuda,, dia adalah pemudah yang langka,, sebagai seorang suami,, dia adalah seorang suami yang langka dan perlu dilestarikan. Dia seorang muslim,pemuda muslim dan suami muslim yang teguh/istiqamah,cerdas, lemah lembut, bijaksana, pandai mengaji dengan lantunan yang menyentuh kalbu. TETAPI setelah saya menonton filemnya,, sangaaaaaaaaat jauh dari apa yang ada dalam novel tersebut,, Fahri hanya seorang pemuda/suami muslim yang cengeng,, selalu tegang dalam menghadapi persoalan hidup yang pelik.
Oleh karena itu mestinya kalau mau membuat proyek Filem yang Islami harus melibatkan para kiyai, ulama, qori’ atau qori’ah sebagai penasehat. Kemudian seharusnya yang menjadi sutradara, actor n actris, editor dan producer yang mengerti tentang Islam secara baik.
Jadi terus terang,, filem ACC sangat jauh dari harapan. Mudah2an rencana projek bapak Chaerul Umam terwujud… Amien
inne mardiutami berkata,
24 April, 2008 @ 11:46 am
Pak Chairul, saya menyarankan yang memerankan Azzam itu adalah aktor AGUS KUNCORO. Alasan2nya antara lain : tidak bertampang seorang model, usia berkisar sama dengan tokoh Azzam, tampang pekerja keras dan ulet, tidak cengengas cengenges, tidak berkulit putih…..(tipe laki2 sejati lah)…..karena tokoh Azzam adalah pekerja keras yg sering kepanasan, kalem alias tidak banyak ngomong dan orang Jawa. Semoga saran ini betul2 dipertimbangkan karena saya agak kecewa dengan film Ayat2 Cinta yang hasilnya tidak sehebat Novelnya.
Anzani berkata,
24 April, 2008 @ 1:38 pm
Assalamu Alaikum…
alhamdulillah, ternyata didunia ini masih banyak orang yang fikirannya sejalan dengan saya…
tapi harus Rasional juga, mungkin nantinya film Ketika Cinta Bertasbih ga akan selaris Ayat-Ayat Cinta yang ketika pembuatannya, sang sutradara memang lebih mengutamakan segi komersilnya dibanding dakwahnya.
afwan, mengingat film fatahilah juga tidak meledak di pasaran…
tapi saya tetep berharap Film Ketika Cinta Bertasbih yang insya Allah lebih jujur, bisa lebih laris di pasaran.
Aamiin…
Tri KartikaYudha berkata,
24 April, 2008 @ 4:35 pm
kalau bisa penggarapan Film nya benar2 di lokasi yang sama di Novel, biar lebih nampak originalnya, key
ayati berkata,
25 April, 2008 @ 10:50 am
oya tuh
komentar ana sey … kan untuk aktornya denger denger dipilih dari publik or masyarakat jadi tolong ya>>>..pilih seobjektif mungkin
soooo
kalo bisa pemilihan lokasi ya ynag sesuai dengan apa yang diceritakan okeyyy
Dwi Anggraini berkata,
25 April, 2008 @ 1:49 pm
Assalamu’alaikum
Saya sangat senang mendengar KCB akan difilmkan. dan saya sangat kagum dengan kang abik bersama karya-karyanya. tapi jujur saya sangat kecewa dengan film AAC yang belakangan peminatnya sangat membludak diseluruh bioskop tanah air. filmnya sangat jauh dari novel aslinya,sangat tidak memuaskan.padahal saya sudah membaca novelnya sampe 3 kali. saya berharap dengan difilmkannya KCB bisa mengganti kekecewaan kita semua yang mencintai karya-karya kang Abik. mudah-mudahan pak chaerul bisa mewujudkan harapan kita semua. Amiien….
Gie Ginanjar berkata,
26 April, 2008 @ 5:38 pm
Setelah membaca novel Ketika Cinta Bertasbih terbesit harapan “apakah akan ada film dari novel ini?” dan mudah-mudahan novel kedua ini tidak kalah sukses dari Ayat-Ayat Cinta….
Amiiiiiiin…….!!!!!
Khairul_azam berkata,
27 April, 2008 @ 7:28 am
Assalamu
muhammad Syukron berkata,
27 April, 2008 @ 3:33 pm
asslamualikum,tuk ikhwah semua,
mengenai novel KCB akn di filmkan, kita seju sekali, karna melihat film AAC kebanyakan penonton dan penggemar novelnya kecewa dengan film yang di tayangkan beberapa bulan yang lewat, ya kita harap di film KCB ini bisa lah setidak nya membawa dan mempengaruhi apa makna yang terkandung di novel itu sendiri, mumpung juga untung ladang dakwah kita buat teman - teman di tanah air, salam dari kita ikhwah dari cairo - egypt
wasalamualaikum
naching berkata,
27 April, 2008 @ 9:30 pm
assalamualaikum, oooooooooooom,
ane setuju dengan idea mba inne mardiutami, seputar pemeran utama film KCB, Agus Kuncoro adalah pigur yang pas untuk film ini, goodluck
wassalam
Syarifah berkata,
8 Mei, 2008 @ 1:24 pm
Kut nimbrung ya… Smoga film KCB tdk kalah sukses dgn AAC. Smoga filmnya bnr2 menjd sarana dakwah islam yg menghayati, mengungkapkan dan mencintai karena rasa takut dan cinta pada Allah utk mendapatkan keridhaan-Nya.
Syarifah berkata,
8 Mei, 2008 @ 1:33 pm
Gmana yg jd tokoh furqon dude herlino, kyanya dy co2k deh.
kingkin berkata,
14 Mei, 2008 @ 9:45 am
semoga film KCB lebih berkah dan lebih sukses dari AAC….
tokohnya yg pas ya???
Allah yubarik fik…
neneng berkata,
15 Mei, 2008 @ 4:16 pm
neng seneng banget akan ada lagi film islam yakni kcb tapi utk yg kali ini neng minta filmnya sama ssprti novel nya dong !
jangan kayak AAC menurrut neng sendiri sangat jauh banget antara novel&film
good luck aja bt semua kru kcb
piping berkata,
15 Mei, 2008 @ 8:09 pm
alhamdulillah banget……ternyata banyak yang kecewa dengan banyaknya perbedaan antara film AAC sama novelnya….ternyata g cuma aku thok….! jadi punya temen….. aku kcewa polll, soalnya isi dari novelnya macem2, kandungan nilainya banyak….lha kok pas lihat filmnya masak yang diangkat cuma poligami thok, kalau itu sich filmnya sudah buuuanyak….. (afwan ya mas Hanung).
lha kalau kabar tentang KCB yang akan dimainkan , wuihhhh…kalau ceritanya sama dengan cerita dinovel….aduhhhh bagus banget deh kayaknya…. jadi g sabar pengen nonton… moga prosesnya lancar aja yach.. biar penontonnya g lama nunggu…..he…he…he….
tapi aku agak bingung sama tokoh yang disebutkan diatas. kok bisa sandra dewi jadi eliana… setahuku sandra dewi itu kan orang non muslim ? (atau aku ya yang ketinggalan berita sampe nyangka orang yang ngga’ ngga’.afwan)….. trus fedi nuril kok jadi ilyas.. kayaknya kecakepen dech…! trus furqon kayaknya juga g pas…… afwan dech kalau banyak ketidak setujuan soal pemain….maklum bukan orang seni……. he…he….
harapannya cuma moga aja para pemainnya memenuhi syarat sebagai tokoh yang dimainkan, g cuma dari segi fisik tapi juga skilll alias ketrampilan…..amieeeeeeeennnnnnnn….amieeeennnnn…..
Alex Abdillah berkata,
16 Mei, 2008 @ 9:00 am
ass.
blom mbacaa novelnya.
Faiz Albar berkata,
16 Mei, 2008 @ 9:31 am
Asslamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah
saya seneng banget denger KCB mau difilmkan,
jujur aja, ketika ngebaca KCB,
lebih bermakna yang saya dapatkan dibanding AAC.
sesua dengan judulnya,
KETIKA CINTA BERTASBIH i & ii
DWILOGI PEMBANGUN JIWA.
mauLida lutHu berkata,
24 Mei, 2008 @ 12:24 pm
Asalamualaikuum..
Pak, castingnya mampir di semarang gag nie?
saya pingin ikut,,
jwb wajib lo,pak..
ditunggu di e-mail ya..
wassalam
retno berkata,
26 Mei, 2008 @ 5:05 pm
Ass…saya retno mas umur saya 24 thn,kisah hidup hmpir sam dengan kisah hidup saya,saya juga seorang kk yang berjuang untuk adik2 saya terutama ma2 saya krana pa2 saya juga sudah meninggal,hanya bedanya azzam adalh laki2 sementara saya seorang perempuan,mungkin kalo saya ikut memerankan salah satu dari tokoh tersebut akan terlihat sangat natural,saya wanita berjilbab yang mengarungi kehidupan untuk membahgiakn 2 orang adik saya,mungkin kalo ALLAH Swt memberikan kesempatan itu kepada saya,saya akan sangat brsyukur krana dari situ saya bisa membahagiakan keluarga saya….cuma banyak lika-liku kehidupan yang harus saya lalui…dan cerita novel itu sama dengan kisah nyata saya,tapi bedanya adalh azzam kuliah sementara sy mengorbankn kuliah demi sekolah adik2 saya,ini tdk mengada-ada,ini benar adanya….Wassalammualaikum
Aliah Ekawati berkata,
29 Mei, 2008 @ 12:49 pm
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Insya Allah filmnya sukses. Tidah hanya sukses ngumpulin duit tapi pesan dan ajaran Islamnya juga sampai dan dapat mengajak masyarakat untuk menjadi lebih baik dan lebih dekat kepada Sang Maha Pencinta… Aamiin…
ubay ba'sir.... berkata,
31 Mei, 2008 @ 1:54 pm
subhanallah,itu yang pertama saya bisa katakan…..
saya sangat ingin secepatnya untuk melihat film tersebut…
insyaalah berhasil
ahsinmuslim berkata,
4 Juni, 2008 @ 4:47 pm
mas, boleh tahu bagaimana membedakan penggunaan cara pandang orang pertama dan ketiga dalam FILM?
ahsani taqwiem berkata,
5 Juni, 2008 @ 10:25 am
saya adalah hebiburrahmancholik (maaf menggunakan nama beliau), dan tiap novel beliau selalu saya baca dan menangis berulang-ulang. ihikz… cengeng yah… mari kita berdoa film KBC lebih baik dam segi apapun dari pada AAC.
jabat erat dan tabik!
shaby berkata,
17 Juni, 2008 @ 5:48 pm
94.
Ass…
saia maw tanya…saia sudah mendaftarkan diri d audisi online KCB…
tp saia bertempat tinggal d palembang…
kota pilihan saia jodetabek….yg saia ingin tanyakan…apa saia harus langsung dtg k tempat audisinya d adakan…atw m’nggu kbr selanjutny..atw panggilan dr tim audisi KCB??ada yg bs jawab???krm k email’q dnk..pls
makasih…
wass^^
Leave a reply
yellashakti berkata,
23 Juni, 2008 @ 8:58 pm
sebaiknya kita tetep menghargai karya hanung, itu jadi pintu masuk untuk film2 islam selanjutnya yg masuk bioskop..pembuatan film tak lepas dari latar belakang pribadi sutradara, maklumlah Hanung memang dari kalangan muda yang mengekspor kekuatan komersial, fokusnya bagaimana supaya film itu meledak dan disukai pasar sedangkan bang Chaerul kan sutradara senior idealis pula,,InsyaAllah akan mempertahankan unsur islam sesuai mestinya,,
BTW buat orang2 yang terpilih casting tetap hati2 menjaga iman, dibalik dunia perfilman,,subkhanallah,,banyak godaan