kenapa aku nolak Syi’ah? (ajakan untuk kembali pada As-Sunnah)
“Ketahuilah, sesungguhnya orang-orang sebelum kamu dari ahi kitab telah berpecah-belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Dan sesungguhnya agama ini akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Tujuh puluh dua golongan tempatnya didalam neraka dan satu golongan di dalam surga, Yaitu al-Jama’ah” (Hadits Hasan riwayat Ahmad). Dalam riwayat lain disebutkan, “Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (Hadits hasan riwayat At-Tirmidzi)
Semangat Ahmadinejad, presiden Iran, dalam menyemangati dunia Islam untuk menghadapi Israel dan AS begitu menggebu. Dengan berani ia menyatakan bahwa Israel hendaknya dihapus dari peta dunia. Program nuklirnya yang jalan terus di tengah ancaman AS menambah simpati.
Sempat beredar SMS untuk mendukung Ahmadinejad di negeri ini kala ia melawat berpidato di kampus-kampus. Juga ternyata sudah banyak blogger Syi’ah di Indonesia.
Belum sampai 30 tahun yang lalu, dunia Islam juga merasakan hembusan semangat dari Iran. Revolusi Iran ala Khomeini yang menggulingkan Shah Reza Pahlevi disambut gempita umat Islam.
Saat ini, hal itu hampir terjadi lagi dengan sepak terjang Ahmadinejad. Umat Islam yang masih awam dengan Syi’ah, menganggap semangat Iran sebagai semangat Islam. Padahal jauh sekali antara Islam dan mereka. Ini tak lain karena mereka adalah Syi’ah, sebuah aliran/madzhab yang berbeda dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang merupakan ajaran murni dari Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
Agama negara Iran saat ini adalah Syi’ah Itsna Asy’ariyah, hal ini tercantum dalam konstitusi yang mereka pakai sejak Revolusi Khomeini hingga saat ini, “Agama resmi Negara adalah madzhab Itsna Asy’ariyah. Dan pasal ini tidak boleh diubah.”
Syiah Itsna Asy’ariyah…
Syi’ah Iran disebut Itsna Asy’ariyah karena mereka mengaku mempunyai imam sebanyak 12 orang dari kalangan ahlul bait. Karena itu mereka juga disebut Syi’ah 12 Imam atau Syi’ah Imamiyah. Imam mereka yang terakhir, Muhammad Mahdi bin Muhammad Al-Askari, menurut mereka, menghilang untuk sementara waktu pada usia 5 tahun ke dalam sebuah gua di Sammara (sebuah kota di Irak dekat sungai Tigris, arah utara dari Baghdad), dan akan kembali pada akhir dunia sebagai Imam Mahdi.
Syi’ah saat ini juga disebut sebagai Rafidhah. Ada beberapa pendapat sebab penamaan ini…
Ada yang mengatakan mereka dinamakan Rafidhah, karena mereka menolak Zaid bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib yang mengatakan bahwa Abu Bakar dan Umar bin Khattab adalah sahabat kakeknya (maksudnya adalah sahabat Rasulullah SAW), dan bahwa Zaid setia kepada keduanya. Ada yang mengatakan mereka dinamakan dengan Rafidhah, karena mereka menolak keimaman (kepemimpinan) Abu Bakar dan Umar. Dikatakan juga, mereka disebut dengan Rafidhah karena mereka menolak agama (Islam).
Sejarah Munculnya…
Paham Syi’ah berawal dari Abdullah ibn Saba’. Ia adalah seorang Yahudi dari Yaman yang masuk Islam pada masa Khalifah Utsman bin Affan. Semasa Yahudi, ia mendapatkan cerita bahwa Yusya’ bin Nun mendapatkan wasiat kepemimpinan dari Nabi Musa as. Karena itu, ia pun mengatakan, dalam Islam, Ali bin Abi Thalib juga mendapatkan wasiat kepemimpinan dari Rasulullah SAW untuk menggantikan Beliau SAW. Kemudian ia pun mengecam khalifah sebelum Ali : Abu Bakar, Umar, dan Utsman, serta beberapa sahabat yang memihak mereka.
Perbuatannya itu ia katakan berdasar perintah Ali. Terhadap kedustaan ini, Abdullah bin Saba’ dihadapkan kepada Ali. Ali menjatuhkan hukuman mati atas Ibn Saba’. Namun karena ada yang menasehati Ali agar orang itu tidak dibunuh (dalam Islam, tidak boleh serta merta membunuh orang yang melakukan khilaf), maka Ibn Saba’ pun dibuang ke Madain, ibukota Iran waktu itu.
Saat Ibn Saba’ tiba di Madain, terdengarlah berita kematian Ali. Ibn Saba’ menolak wafatnya Ali, “Aku sendiri menyatakan ia tidak tewas. Ali tidak akan wafat. Tidak akan terbunuh sebelum ia dapat menguasai seluruh permukaan bumi ini.”
Mulailah Ibn Saba’ merajalela. Ia mengatakan Ali tidak terbunuh karena pada diri Ali terdapat unsur Ketuhanan. Menurutnya, Ali sering menjelma dalam bentuk awan. Guruh adalah suaranya, petir adalah cemetinya. Ibn Saba’ pun mempunyai pengikut yang terus mengembangkan pahamnya hingga terkenal menjadi Syi’ah.
Imamah…
Imamah atau kepemimpinan Islam merupakan doktrin utama Syi’ah. Ini adalah prinsip utama mereka sejak masa Ibn Saba’. Syi’ah Imamiyah berkeyakinan bahwa Allah telah memerintahkan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menunjuk Ali dan mengangkatnya sebagai pemimpin umat manusia (khalifah) setelah Beliau SAW. Untuk mendukung keyakinan mereka, mereka mengarang cerita palsu bahwa sepulang dari Haji Wada’, Rasulullah SAW mewasiatkan kepemimpinan Islam kepada Ali di tempat yang bernama Ghadir Kum. Mereka kemudian meyakini setiap imam mereka pun mewasiatkan kepemimpinan pada imam berikutnya.
Seorang ulama Syi’ah, Muhammmad Al-Husein Ali Kasyiful Ghitha’ dalam bukunya, Ashlusy-Syi’ah wa Ushuuluha berkata, “Arti Imamah, telah saya jelaskan, bahwa hal ini (imamah) merupakan dasar utama yang hanya dimiliki oleh Syi’ah Imamiyah dan menjadikan Imamiyah berbeda dari aliran-aliran dalam Islam lainnya.”
Berkaitan dengan masalah imamah ini pula, saudara Syi’ah kita menuduh Al-Quran yang ada sekarang ini telah diubah. Mereka menganggap ayat-ayat yang berhubungan dengan kepemimpinan Ali telah dihapus. Mereka sendiri mengaku punya Mushaf Fathimah yang tebalnya 3 kali Al-Quran.
Padahal dalam Allah SWT berfirman bahwa Qur’an selalu terjaga keasliannya, “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (Q.S. Al Hijr : 9)
Aqidah Syi’ah tentang Imam Mereka…
Khomeini dalam bukunya, Al-Hukumah Al-Islamiyah, berkata, “Setiap imam memiliki martabat yang tinggi dan terpuji. Kekuasaannya meliputi molekul dan atom di alam ini… Jangan kita bayangkan para imam itu bisa lupa atau lalai… Sudah menjadi keyakinan kita bahwa para imam itu menempati martabat yang tidak dijangkau oleh para Malaikat yang didekatkan ataupun para Nabi yang diutus.”
Ibrahim Al-Amili, ulama Syi’ah zaman ini, bersyair tentang Ali, “Abu Hasan, engkaulah hakikat Tuhan (yang diibadati) dan alamat kekuasaan-Nya yang tinggi. Engkaulah yang menguasai ilmu ghaib. Maka mungkinkah tersembunyi bagimu akan sesuatu yang hasul? Engkaulah yang mengendalikan poros alam.
Bagimu para ulamanya yang tinggi. Bagimu amar (urusan) bila engkau menghendaki. Kau menghidupkan besok. Bila engkau menghendaki kau cabut (nyawa dari) ubun-ubun.”
Dengan keyakinan bahwa imam mereka lebih tinggi dari Malaikat dan para Nabi serta mempunyai unsur tauhid, jelaslah aqidah mereka adalah aqidah yang salah.
Bertolak belakang dengan, “…dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (Q.S. Al Ikhlas : 4)
Pelacuran Atas Nama Nikah…
Saudara Syi’ah kita juga mempunyai nikah mut’ah alias kawin kontrak. Nikah mut’ah dilakukan antara sepasang laki-laki dan perempuan untuk beberapa waktu tertentu dengan imbalan tertentu dari pihak laki-laki kepada si perempuan tanpa wali, tanpa talak, tanpa waris-mewarisi dan tidak terbatas pada jumlah perempuannya.
Syi’ah mengatakan bahwa mut’ah boleh dilakukan terhadap wanita Nasrani, Yahudi, dan Majusi. Ulama Syi’ah, Ath-Thusi, dalam Tahdzibul Ahkam, berkata, “Boleh dengan wanita pelacur, karena itu dapat mencegah dari berbuat dosa.” Khomeini dalam Tahrirul Washilah berkata, mut’ah boleh dilakukan dengan wanita pezina.
Yang tak kalah membuat hati saya tergores, Syi’ah membolehkan menyetubuhi wanita dengan anal. Tercantum dalam kitab Syi’ah, Al-Istibshoor, dari Ali bin Al-Hakam ia berkata, “Saya telah mendengar Shofwan berkata, ‘Saya telah berkata kepada Al-Ridha, ‘Sesungguhnya seorang laki-laki dari budak-budakmu memerintahkan saya untuk menanyakan kepadamu akan suatu masalah, maka dia takut dan malu kepadamu untuk menanyakannya.’ Ia berkata, ‘Apa itu?’ Ia berkata, ‘Apakah boleh bagi laki-laki untuk menyetubuhi wanita (istrinya) di lubang anusnya?’ Ia menjawab, ‘Ya, hal itu boleh baginya.’”
Pandangan Syi’ah terhadap Selainnya…
Saudara Syi’ah kita memandang orang selain Syi’ah adalah kafir. Kamil Sulaiman dalam Kitabu Al-Khalash fi Zhilli Al-Qaim Al-Mahdi berkata, “Siapa yang meyakini para imam dua belas adalah orang beriman, dan siapa yang mengingkari mereka adalah orang kafir.”
Yusuf Al-Bahrani, ulama Syiah abad XVII, berkata, “Tidak ada beda sama sekali antara orang yang kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan kafir terhadap para imam.”
Seorang ulama Pakistan, Syaikh Abdul Qadir Azad, yang Ahlussunnah, pernah mendatangi undangan Iran dalam perayaan 3 tahun revolusi Iran. Ia bercerita, “Pada saat itu kami menyaksikan poster-poster besar terpampang di dinding-dinding Hotel Hilton Teheran, dengan tulisan ‘Kita akan membebaskan Ka’bah, Baitul Maqdis, dan Palestina dari belenggu kaum kuffar.’” Sudah jelas yang menguasai tempat-tempat itu sekarang bukan saudara kita, Syi’ah.
Taqiyah…
Lalu mengapa mereka seakan-akan sama dengan umat Islam? Ini tak lain karena mereka mempunyai paham taqiyah.
Taqiyah menurut Syi’ah didefinisikan oleh salah seorang ulama mereka, Muhammad Jawaad Mughniyah, sebagai, “Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini; untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu.”
Al-Kulaini menukilkan di Ushul al-Kafi, kitab Syi’ah, “Berkata Abu Abdillah, ‘Wahai Abu Umar, sesungguhnya sembilan per sepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan taqiyah.’”
Maka saudara Syi’ah kita memandang taqiyah adalah wajib, tidak akan berdiri mazhab mereka kecuali dengan taqiyah. Mereka selalu melaksanakan taqiyah, terlebih-lebih, bila kondisi yang sulit telah mengepung mereka. Jadi tak heran jika saat ini mereka tampak bersama umat Islam dan tak mengusik umat Islam. Jika kesempatan telah terbuka bagi mereka, tentu yang terjadi adalah lain.
Di Indonesia, terdapat pula orang atau lembaga yang cenderung kepada Syi’ah. Penerbit Mizan misalnya (novel Diorama Sepasang Albanna untungnya nggak menjurus ke Syi’ah… Alhamdulillah!!), beserta anak perusahaannya, adalah penerbit yang intens menerbitkan buku-buku Syi’ah. Ada juga Pesantren YAPI yang juru dakwahnya tersebar di hampir setiap kota di Indonesia. Saat ini ada pula IJABI atau Ikatan Jama’ah Ahlul Bait yang juga tersebar perwakilannya di kota-kota besar.
Dengan mengetahui akidah, pemikiran, dan syariah Syi’ah… wajar kalo aku nolak paham kayak gitu. Di Jakarta pernah diadain seminar nasional tentang Syi’ah yang menghasilkan usulan pada pihak pemerintah untuk mewaspadai dan memberi gelar paham ini sebagai paham terlarang.
Dengan postinganku ini, semoga sepak terjang Ahmadinejad nggak bikin kita lupa tentang aqidah Islam yang sebenernya berbeda dari aqidah saudara Syi’ah kita yang berbeda dari Islam sesungguhnya, yaitu Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW dan diteruskan oleh ulama-ulama salaf (baca postingan Akhi Adi Jaya, Lc., kenalanku yang lulusan Fakultas Ushuluddin Al-Azhar University, Cairo tentang Ahmadiyah dengan klik di sini. Mungkin agak OOT, tapi coba pahami bagaimana pemikiran Salafnya seorang lulusan Andonesy Azhariyyin yang kuliah di Universitas Islam tertua di dunia yang Ahlussunnah Wal Jama’ah, dan sudah bersih dari paham Syi’ah sejak paham itu diketahui menyimpang dari aqidah Islam pada abad pertengahan, meskipun yang membangun pada awalnya adalah golongan Syi’ah Ismailiyyah).
Kita emang harus meng-counter serangan Israel dan AS dalam perusakan dan kerusakan aqidah generasi muda (mungkin termasuk aku juga yang masih suka main game-game dari AS
). Tetapi ingat, bukan dengan cara brutal seperti merusak sana sini dan bom bunuh diri. Gerakan boikotan terhadap barang produksi AS sangat bagus untuk yang haram, tetapi untuk barang yang halal sekaligus bermanfaat tetap dibolehkan. Contohnya PC/laptop, kan kita nggak bisa bikin sendiri. Juga karena Rasulullah SAW sendiri pernah membeli barang dari orang Yahudi, karena hukum jual beli itu adalah mubah (boleh) jika barangnya halal.
Dalam postingan ini, aku nggak mau bilang mereka kafir atau murtad karena aku nggak berhak meng-kafir-kan, perkaranya berat. Aku nggak membenci Ayatollah Khomeini beserta penerusnya, juga Mahmoud Ahmadinejad. Aku emang menghormati para Ahlul Bait juga, tapi aku nggak menyamakan mereka seperti Rasulullah SAW dan aku nggak membenci/mengkafirkan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar as Siddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib) seperti yang dilakukan kebanyakan saudara Syi’ahku, karena Rasulullah SAW mencintai mereka semua sebagai sahabat-sahabat yang paling dekat dan paling kuat Islamnya. Tetapi saudara Syi’ahku terlalu mengagungkan Ali bin Abi Thalib ra. Padahal beliau sama derajatnya dengan tiga sahabat Rasulullah SAW yang terpilih sebagai Khulafaur Rasyidin (Generasi Terbaik dari Islam), dimana Ahlussunnah Wal Jama’ah selalu mendo’akan dan menyanjung mereka semua karena Islamnya sempurna.
Inget, postingan ini nggak bermaksud menghujat atau mencaci. Aku cuma ngasih komentar dan jawaban terhadap propaganda mereka yang salah, terutama yang ada di dalam dunia blog Indonesia, berdasarkan Ahlussunnah Wal Jama’ah yang telah aku sepakati sebagai manhaj yang benar dalam Islam. Tapi , kebenaran tetap kembali pada Allah SWT dengan hamba-Nya yang mengikuti Qur’an dan Hadits. Karena sesungguhnya kebenaran itu yang memegang hanyalah Allah SWT semata, bukan orang-orang yang memusuhi Islam, mencaci satu sama lain dan melakukan pembunuhan/kekerasan atas nama Islam… apalagi aku yang gamer ini!!!
Ingatlah akhi dan ukhti yang aku cintai karena Allah. Allah akan selalu bersama kita, insan yang menegakkan Islam dengan kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Janganlah kita bersedih dan patah semangat saat Islam dilecehkan maupun dihujat, balaslah mereka dengan lemah lembut dan dengan narasumber Qur’an dan Hadits yang indah. Rasulullah SAW tidak pernah berbuat kasar dan kejam terhadap musuh-musuh Islam, bahkan terhadap orang-orang yang ingin membunuh Beliau SAW.
Islam adalah agama yang cinta damai, menghormati segala agama dan perbedaan paham. Tetapi Islam harus melakukan konfirmasi secara sungguh-sungguh (bukan dengan kekerasan dan demonstrasi, apalagi bila ada akhwat yang ikut berdemo… padahal akhwat itu harus menjaga dirinya agar tidak menjadi tontonan) apabila Islam dilakukan sewenang-wenang atau disalah-artikan secara aqidah seperti apa yang dilakukan saudara Syi’ah kita. Tapi aku yakin kok, saudara Syi’ah kita bisa kembali pada Islam yang sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW, yang disebut “Jama’ah” oleh Beliau SAW dalam hadits di atas.
Jazakumullahu khairan katsirah…
P.S. :
Postingan ini diunduh dari berbagai sumber di link Islamic website dan Inspiration punyaku. Ati-Ati lho, jangan terpancing tuduhan Wahabi yang dipropagandakan Saudara Syi’ah kita, tanpa mengetahui dengan jelas sumbernya. Coba dicari referensinya di link muslim.or.id tentang Wahabi. Aku hanyalah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang ngikuti Al-Qur’an dan Al-Hadits beserta petunjuk ulama-ulama salaf yang aqidahnya murni. Nggak ikut ormas atau orpol manapun, ikutnya ya Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan dan Ikatan Mahasiswa Teknik Lingkungan Indonesia aja. Atau dengan klik di sini. Juga dari buku “Dialog Apa dan Siapa Syiah?”
Sekali lagi Ini bukan fitnah, tapi sebuah renungan dan ajakan bagi kita semua tentang Saudara Syi’ah kita beserta komen pada bloggers Syi’ah. Aku pribadi sepakat atas usaha Ahmadinejad akan sikap anti-AS dan anti-Israel, juga Revolusi Islam Ayatollah Khomeini. Tapi yang kulakukan dalam postingan ini adalah mengidolakan berdasarkan sikap mereka pada Israel & AS aja, bukan karena Syi’ah mereka. Karena idola sesungguhnya hanyalah Rasulullah SAW.
‘Abdullah bin Mas’ud menjelaskan…
Bahwa nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat satu garis dengan tangannya lalu bersabda “ini jalan Allah ‘Azza wa Jalla yang lurus”, lalu beliau membuat garis-garis dikanan kirinya, kemudian bersabda, “ini adalah jalan-jalan yang sesat tak satupun dari jalan-jalan ini kecuali didalamnya terdapat setan yang menyeru kepadanya.” Selanjutnya beliau membaca firman Allah ‘Azza wa Jalla, “dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus maka ikutilah dia janganah mengikuti jalan-jalan (yang lain) karena jalan itu menceraiberaikan kamu dari jalan-Nya yang demikian itu diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla kepadamu agar kamu bertaqwa (Qs. Al-an’am153)”. (Hadits shahih riwayat Ahmad dan Nasa’i).
“Semua golongan tersebut tempatnya di Neraka, kecuali satu (yaitu) yang aku dan para sahabatku meniti di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi, dan di-hasan-kan oleh Al-Albani dalam Shahihul Jami’ 5219)
btw… emang aku ustadz? bukan
Di link ini, ini, ini, ini dan itu adalah yang lengkap pembahasannya. Jadi kalo pengen berdebat, silahkan ke sana. Bukan di blog ini, aku cuma menampilkan review yang referensinya dari situs dan blog tadi.


Saudara A berkata,
4 Mei, 2008 @ 5:54 pm
Salam
Udah sering sih baca yang seperti ini, yang penting mari kita sama-sama menghargai sesama Muslim baik itu Sunni atau Syiah
presty larasati berkata,
4 Mei, 2008 @ 9:57 pm
*ngeliet foto Ahmadinejad*
aahh..
presiden iran itu salah satu idolaQ…
pemimpin yang begitu bersahaja dan rendah hati….
presty larasati berkata,
4 Mei, 2008 @ 9:58 pm
*mbaca postingan*
ghaniiii!!!!
puanjang buanget postingannya…
harus mikir lagi, mbacanya..
*lagi males mikir*
absen aja ya, dek..
presty larasati berkata,
4 Mei, 2008 @ 10:00 pm
btw, klo masalah syi’ah.. g ikutan deh,,,
plain love berkata,
4 Mei, 2008 @ 11:10 pm
saya islam dan saya tak peduli dengan keislaman orang lain. saya ingatkan sekali itu sudah cukup. tiap orang punya pilihan. dan tiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing.
antokoe berkata,
5 Mei, 2008 @ 1:25 am
Tambah ilmu. Thank’s.
nenyok berkata,
5 Mei, 2008 @ 7:43 am
Salam
Wah trims nie, jadi lebih banyak tahu, menurut antum sebanding ga antara syiah dan ahmadiyah (kan sepertinya ada perbedaan mendasar dari segi aqidah), maksud gw apakah keduanya bisa tergolong pada kaum yang dianggap atau diduga “mengacak-ngacak ajaran agama islam” sehingga kmdn khususnya di Indo diusukan sebagai ajaran yang terlarang?.
Landy berkata,
5 Mei, 2008 @ 8:46 am
Ehmmmmmm, makasih postingannya
achoey sang khilaf berkata,
5 Mei, 2008 @ 9:02 am
sebuah tambahan pengetahuan
salut dik!
Mr.El-Adani berkata,
5 Mei, 2008 @ 3:51 pm
sejak kapan surga dan neraka jadi komiditi dagang (ga nyambung yaa)
sejak kapan pula kebenaran menjadi hal yang mutlak bagi satu pihak saja? selayaknya kita pahami kalau mereka adalah mereka yang berbeda dalam segala hal….
Tgk. Alex berkata,
5 Mei, 2008 @ 8:48 pm
Tapi…
Harus diakui, bahwa selagi umat Islam di luar syiah itu sibuk berantem sesama mereka sendiri, Iran dengan Syiah-nya lebih vokal dalam menyuarakan pembangkangan terhadap dominasi pemerintahan neo kolonial seperti AS, Jepang, Inggris itu…
Dimana umat muslim non-syiah, saudara?
titov berkata,
5 Mei, 2008 @ 11:31 pm
wah, seru nih…
perseteruwan abadi
hanggadamai berkata,
6 Mei, 2008 @ 7:23 am
yang penting kita saling menghargai..
Yang jelas kita harus selalu fisabilillah
ManusiaSuper berkata,
6 Mei, 2008 @ 9:43 am
Menurut antum, bagusan mana, Presiden Iran atau Presiden Amerika Serikat sekarang?
(Jangan menjawab Lebih Bagus Rasulullah, karena itu memang tidak perlu diperdebatkan)
ayyash berkata,
6 Mei, 2008 @ 10:14 am
salam…
wah, jalan antum lurus ya?…hati-hati, kalo lurus terus ntar bisa ngantuk..nabrak deh..
tapi salut juga buat antum, antum sudah bisa membedakan mana yang menurut antum bakal masuk surga, mana yang neraka..
ntar surga bakalan sepi donk…
dimas berkata,
6 Mei, 2008 @ 10:43 am
assalamualaikum..
mas bisa di buat referensi u/ tulisan anda
wassalam
kakang berkata,
6 Mei, 2008 @ 12:19 pm
http://alsofwah.or.id/?pilih=lihatakhbar&id=754
IRAN Semakin Mesra Dengan Para Tokoh Agama Yahudi, Ada Apa?
Bagaimana tanggapan antum tetang alamat diatas
Thanks ya Informasinya
hilda alexander berkata,
6 Mei, 2008 @ 12:33 pm
sejak kapan Anda diberikan otoritas untuk meluruskan aqidah saudara Syi’ah kita? Memangnya aqidah saudara Syi’ah kita itu bengkok, sehingga harus diluruskan? tulisan ini sarat pretensi dan tendensius…
kamal87 berkata,
6 Mei, 2008 @ 1:06 pm
sebenarnya ajaran syi’ah itu gak semuanya melenceng akidahnya…. memang banyak aliran syi’ah yang dalam hal akidah sudah melenceng jauh dari akidah ajaran islam. Tapi ada juga orang yang mengaku syi’ah tapi akidahnya masih lurus dan masih bisa digolongkan sebagai ahlussunnah wal jama’ah
wallahu’alam
IVAN berkata,
6 Mei, 2008 @ 2:18 pm
Akhi mau tanya…Dalam ahlussunah sendiri ada beberapa kelompok (baca: Ormas) yg misalnya di indonesia ada NU dan MUhammadiyah. kedua golongan sering berbeda dalam keputusan keagamaan misalnya penentuan 1 Syawal, 1 Ramadhan, tata cara sholat jum’at,dsb. sedangkan kebenaran hanya ada 1.
pertanyanannya, apakah kedua golongan bisa sama2 dibenarkan. padahal dalam ibadah tidak boleh ada perbedaan. perbedaan penentuan 1 syawal misalnya, kan sangat fatal apabila terjadi perbedaan.Mohon penjelasan.
alex berkata,
6 Mei, 2008 @ 3:08 pm
Aqidah itu bisa benar dan salah tergantung dari sudut mana kita berdiri memandangnya. Saya sendiri menolak paham-paham syiah dalam hal aqidah dan fiqih, misalnya.
Tapi itu tidak jadi alasan utk membenci. Bagi saya sederhana saja: selama syahadatnya masih benar, tak ada masalah besar.
Di bagian mananya Iran kurang sopan?
Karena membangun reaktor nuklir?
Negara2 maju kenapa boleh?
Atau karena menyelenggarakan kontes Holocaust?
Hahaha… paradoks demokrasi lagi. Sementara negara2 yang mengaku demokrasi boleh bikin kartun2 hujatan pada Islam, kenapa mereka menolak kebebasan orang juga untuk berekspresi?
Atau karena Iran anti-Amerika?
Sejauh yang saya tahu, yang dibenci oleh Iran terhadap Amerika adalah pemerintahannya, bukan warga negaranya keseluruhan.
Saya tidak setuju dengan kekerasan. Tapi kadang-kadang, saat terjadi penekanan, resistensi adalah reaksi yang wajar.
Masalah demonstrasi: saya heran kenapa banyak orang salafy menolak demonstrasi? Sejauh mana efiktifitas dialog dengan mengirim delegasi2 ?
Demonstrasi adalah salah satu sarana buat menekan.
Anda benar.
Tapi ingat: terkadang kekerasan dalam hal angkat senjata (apakah itu pedang atau pena) diperlukan untuk mempertahankan eksistensi. Tentu sebagai solusi akhir.
Islam bukan agama yang peace melulu, saudara. Peace tapi dibawah tekanan untuk apa?
Saya coba untuk mengerti
agungfirmansyah berkata,
6 Mei, 2008 @ 4:01 pm
Saya belum tau banyak tentang Syiah. Jadi, terimakasih atas infonya Ghan. No Comment lah about Syiah.
Tp, yang tentang boikot produk, pelarangan berdagang dengan orang yang jelas-jelas mendholimi saudara kita, hukumnya bisa jadi wajib. Mengapa? Karena keuntungan berdagang mereka bisa digunakan untuk mendukung kedholiman itu meski barang dan transaksi dagangnya secara format tetap halal.
wallahu a’lam
oRiDo berkata,
6 Mei, 2008 @ 4:18 pm
nice post..
sesama muslim.. mari, mari kembali pada islam yang sebenar2nya, yang berlandas pada al-Qur’an dan Hadist… mari bersatu..
titov berkata,
6 Mei, 2008 @ 7:24 pm
yups.. jangan sampe sesama muslim berseteru, apalagi bunuh-membunuh..!
..psstt.. tapi, kabarnya “mereka” udah dicap bukan bagiyan dari muslim?
Junarto berkata,
6 Mei, 2008 @ 9:40 pm
Apa anda pernah berdiskusi dengan kalangan Syiah secara langsung?
Cobalah baca buku Mantan Menteri Agama RI Quraish Shihab: Sunni Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?
Buku itu bagus dan memberikan pemetaan sekte Syiah yang tidak monolitik dan penjelasan yang cukup obyektif..
Kapan2 saya resensi di blog saya.
Salam kenal.
alin berkata,
6 Mei, 2008 @ 11:26 pm
ketidaktahuan adalah dosa yang paling banyak kita lakukan, nanti di alam sana tinggal cari alasan atas dosa ketidaktahuan itu. Dan Allah Maha Tahu kelebihan dan kelemahan ciptaanNya.
Orang buat benteng karena takut diserang, orang takut diserang karena punya banyak musuh, atau malah orang yang lagi nyari musuh? tulisan anda banyak bentengnya.
mustakim berkata,
7 Mei, 2008 @ 12:20 am
assalamu alaikum mas,
sepertinya (menurut saya yang awam ini) anda mengetahui banyak tentang syi’ah… tetapi sesuatu tidak akan kita ketahui dengan sempurna jika kita tidak berbicara langsung dengan yang kita hujat.
karenanya saya harap anda mau berdiskusi dengan blog yang terang-terangan mengaku syiah yaitu
http://****.wordpress.com
saya yang awam akan melihat apa klaim-klaim anda disini tentang syiah benar atau tidak? Karena kebenaran pasti akan tampak. Sudah terlalu sering saya melihat orang menghujat dan menuduh syiah tapi takut berhadapan langsung dengan mereka.
Contohlah Syaikh Ahmad Deedat yang Sunni itu, yang berani berdebat dengan kristen dan selalu menang karena Islam memang yang benar. Nah cobalah anda berdisikusi di blog milik syiah tersebut. saya yang awam ini akan melihat dan membandingkan hujah siapa yang lebih kuat dan ingin tahu apa benar syiah itu memang seperti yang anda tuduhkan !
mohon tulisan saya dimuat tanpa disensor, makasih
wassalam
oRiDo berkata,
7 Mei, 2008 @ 9:21 am
aseli nih..
pusing.. pusing…
makannya, aku sih lebih mengedepankan bahwa kita sesama muslim mbo’ ya.. jangan betengkar… JANGAN BETENGKAR!!
diskusi dengan memberikan referensi masing2 boleh2 aja… biar lah masyarakat yang menilai masing2.
Tapi diskusi lah dengan kepala dingin, gak dengan cara menghujat atau cara lainnya yang memicu perpecahan.. saling menghargai pendapat orang lain..
seperti yang aku bilang, agar kita sesama islam dapat selalu memperkuat ke-ISLAM-an kita semua.. tidak memperbesar perbedaan yang ada…
yang tua menghargai yang muda..
yang muda menghormati yang tua..
plis.. plis..
ghaniarasyid berkata,
7 Mei, 2008 @ 11:08 am
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Wah, nggak menduga postingan yang sebenernya untuk ngetes apakah sifat saudaraku di sana memang seperti apa yang dikatakan oleh para ulama dan untuk mengingatkan temen-temen sebayaku untuk berada dalam jalan Ahlussunnah dapet tanggepan macem-macem. Tak sedikit pula yang nyerocos dengan kata-kata tajam dan nggak sopan, juga dimuat tanggapan atas postingan ini segala. Padahal aku maunya postingan ini sebagai penyeimbang aja, biar nggak berat sebelah wacana yang ditulis saudaraku di sana. Karena saudaraku di sana juga menjelek-jelekkan Sahabat Rasulullah SAW, para ahlul hadits sahih, Imam Bukhari-Muslim, dan memakai cara licik untuk menjebak kita yang masih awam untuk masuk ke blog mereka dengan menggunakan nama yang mereka caci maki. Aku sengaja nggak memberikan link ke blog atau situs mereka agar tidak ada perdebatan sia-sia dengan mereka, because kita udah diingatkan berkali-kali sama ulama Ahlussunnah sejak terbongkarnya ketidakberesan mereka.
Kalo ada kata-kata yang buat anda nggak berkenan, mohon dimaafkan. Kita sama-sama belajar. Aku cuma mahasiswa juga. Aku kan udah bilang berkali-kali di postingan ini… Aku menghargai mereka juga kok, tapi itu tadi… aku pengen ini menjadi suatu penyeimbang karena ada temen-temen dan unsur Ahlussunnah Wal Jama’ah yang juga diserang saudaraku di sana. Padahal Ahlussunnah menghormati dan memuliakan semua Sahabat Rasulullah SAW tanpa kecuali, Ahlussunnah juga memuliakan dan mencintai Ali bin Abi Thalib ra. yang merupakan keponakan kesayangan Beliau SAW sebagai khalifah ke-empat.
Anggap ini sebagai penyeimbang, maaf juga aku menyensor link di sini, karena sebaik-baiknya umat Islam adalah menghindari perdebatan tiada berguna… apalagi dengan sesama Muslim. Kalo dengan yang non-muslim, itu terserah, lebih baik yang ilmu agamanya lebih kuat… bener kata akhi oRiDo.
Saya tutup komen-komen lain sampai disini, mohon maaf. Mutasyakkir katsiran.
Semoga setelah postingan ini umat Islam semuanya nggak ada yang saling menghujat dan mencaci sesamanya, karena musuh kita sebenarnya adalah kebodohan, kemiskinan, korupsi, keputus-asaan, kerusakan moral, dan kezaliman khususnya dari orang-orang Barat. Tapi untuk saling mengingatkan apabila salah apabila bertentangan dengan Qur’an dan Hadits tetap diperlukan.
Sebagai penutup, mari kita serukan blogger’s manifesto kepada pihak yang tidak menghargai hakikat kita sebagai blogger yang menyuarakan kebenaran dan keadilan, bahkan melakukan pressing pada kita (untuk sesama blogger juga)…
Jazakallahu khairan katsirah.
Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh.
Allahu Akbar!!!
link-link terkait tentang mewaspadai bahaya Syi’ah :
manhaj.or.id
hakekat.com
cek & ricek
haulasyi’ah
al-Bayyinat
mumtazanas
harry sufehmi