I love Semarang! I wanna visit that place again!
See all those people on the ground,
Wasting time…
I try to hold it all inside,
Just for tonight,
On top of the world,
I’m sitting here wishing,
The things I’ve become,
But something is missing,
Maybe I…
What do I know?
- On My Own, The Used
Perjalananku ke Semarang itu menyisakan banyak hal yang tak bisa kulupakan.
Baru kali ini aku merasakan sebuah travelling yang begitu memorable.
So, postingan ini aku tulis untuk mengungkapkan apa saja yang membuat aku begitu terkesan terhadap perjalanan ke Semarang itu.
menyatukan kaki, menyatukan semangat, untuk mengabdi pada majikan Mother Earth
Di terminal…
Waktu datang pertama kali di Semarang, aku bersama rombongan dari TL-ITS disambut oleh terminal bus Terboyo. Kesan pertamaku terminal ini kacau banget, kotor dan kumuh. Bus-bus dengan sembarangan menaikkan dan menurunkan penumpang. Dan ternyata dalemnya memang sama aja, bahkan lebih rusak. Jalanan aspal rusak berat, banyak genangan dana non-bujeter air di mana-mana.
Dalam hati, aku masih bersyukur terminal Purabaya (Bungurasih) yang menjadi kebanggaan warga Surabaya (nyombong
) nggak separah ini infrastrukturnya, meskipun di Purabaya lebih menyeramkan dari pocongan karena tukang pukul dan tukang tagih utang copet dan calo bertebaran dan mencari mangsa dengan gigi dan kukunya yang tajam ganasnya
.
Di terminal Terboyo ini aku juga menyadari kalo banyak banget warung dan depot makanan yang nggak higienis. Rata-rata, mereka nggak nutup jendela dan pintunya!!! Edan tenan!! Wah, enak sekali dong CO dan partikulat dari knalpot bus masuk dengan leluasa ke makanan!! Ck ck ck ck… *geleng-geleng kepala, mengelus dada*
. Aku bener-bener nggak rela kalo terminal-terminal bus di Indonesia kayak gini terus nantinya!!
. Gitu anak-anak Undip yang nganterin kita ke terminal pas mau balik ke Surabaya, kok ya malah minum teh & kopi anget di warung sambil nungguin kita shalat!! Jan… jan… cah-cah kuwi edan tenan!!
screenshot pikiran suasana kotor terminal bus Terboyo, Semarang
Semarang’s things…
Tapi dalam perjalananku dengan bus kota menuju Tembalang, daerah kampus Fakultas Teknik Undip itu, benar-benar membukakan mataku. Aku terkesima. Wah, ternyata Semarang itu dataran tinggi ya? *terdengar suara seorang bocah laki-laki dengan pandangan matanya yang polos*
. Perjalanan di sepanjang tol Semarang-Jogja memang indah banget, jadi inget Malang. Apalagi waktu malam hari… beuhhh. Downtown Semarang bener-bener jadi The Valley of Lights. Ada suatu spot di daerah Gombel, di mana aku bisa menyaksikan penampakan Wewe Gombel pemandangan yang amazing dari downtown Semarang. Seakan-akan bintang di langit yang berkerlap-kerlip di kejauhan itu jatuh semuanya ke bawah dan menimpa kota Semarang jaraknya sangat dekat denganku *lagi-lagi terdengar suara seorang bocah laki-laki dengan pandangan matanya yang polos*
.
Dengan elevasi yang nggak rata, wajar aja kalo Semarang dikenal sebagai kota yang sering kebanjiran. Jelas aja, run off air hujan dari atas bukit turun tanpa penghalang ke downtown gara-gara bukit-bukit di Semarang itu udah dibangun banyak gedung, rumah-rumah dan jalanannya beraspal pula
. Update : ternyata banjir ini juga disebabkan oleh rob, limpasan dari air laut saat pasang, karena Semarang yang “kota bawah” sebagian berada di bawah level permukaan laut.
Suhu udara di Semarang ternyata sama aja kayak di Surabaya. Bedanya, di Semarang panasnya karena matahari dan angin laut yang nabrak pegunungan. Kalo di Surabaya karena polusi udara di mana-mana plus suasana sosial di Surabaya yang panas
(nggak bisa dijelasin dengan kata-kata
).
Tapi, yang paling asyik di Semarang itu pantainya! Terutama Pantai maroon 5 Marina Kulon, kayaknya belum bener-bener terjamah oleh tangan-tangan manusia. Hutan mangrove-nya… beuhhh. Indah nian
. Cuma, sayangnya deket ma bandara udara. Bising banget!! (meskipun lebih bising mesin F1 sih!
).
Semarang ternyata jarang macet, jalanan aspal di kota dan di bukit mulus banget, aku jadi iri. Kapan ya Surabaya bisa gitu?
.
Tentang bahasa Semarang, ada yang unik. Ada kata-kata unik dan kata khas “ik“, yang merupakan suatu penegasan kata biar kedengaran mantap, lebih sering digunakan sebagai kata ganti dari “sih”
. Nih contoh bahasa Semarangan, “Aku rak iso ngrewangi njoki SPMB-mu koyo cah-cah. Ning nek kowe gelem mbayar nganggo Kawak Ninja RR-mu kuwi yo iso tak usaha’ke ik!” (In Indonesian : Aku nggak bisa bantuin nge-joki-in SPMB-mu kayak temen-temen. Tapi kalo kamu mau bayar pake Kawak Ninja RR-mu, bisa aku usahain sih!
)
Mengenai kuliner, Semarang kayaknya nggak ada yang khas. Mungkin yang mengesankan adalah kue moci dan lumpia-nya. Lumayan sih kue moci, luarnya kenyal (dari tepung terigu), dalamnya kayak ada campuran kacang. Kalo lumpianya biasa aja, di Surabaya juga ada
. Tapi saos untuk lumpia Semarang nggak dari tomat, jadi sensasinya agak beda
.
screenshot perbukitan di Semarang dilihat dari jalan tol
membasmi sampah plastik di Pantai maroon 5 Marina Kulon
virus narsis yang mematikan sulit diberantas di manapun, termasuk di pojok Semarang ini

ini lumpia-nya Semarang, saosnya beda dengan yang di Surabaya

ini yang namanya kue moci, hmmm… mak nyusss!!!
Kampus Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Tembalang-Semarang…
Pertama kalinya mengunjungi Undip. Terkesima. Terbelalak. Terkagum-kagum
. Wah, elevasi di sini juga gila-gilaan. Beda ma ITS, jalan umum di dalam kampus Undip rata-rata letaknya lebih tinggi dari kampusnya. Aku dapat membayangkan betapa sulit dan gilanya jeniusnya insinyur yang ngrancang semua ini
.
ITS kayaknya beruntung banget berada di dataran rendah, tapi yang bikin mangkel dari ITS adalah drainasenya!! Di kampusku itu jalanannya sering banget kebanjiran waktu hujan deras!! Heran aku, padahal keliatannya orang ITS pinter-pinter!!
.
Gaya arsitektur di Undip juga cukup unik, kayaknya lebih bergaya modern dan nggak mencoba njiplak kampus lain.
Tapi, yang paling berkesan dari Undip ini adalah anak-anaknya!!! Bersahabat banget dan ramah pol!!! Aku sebenernya agak takut nggak bisa ramah ma mereka. Terutama tawa mengejek dari mereka waktu kita ngomong pake bahasa Suroboyoan yang sedikit pojok kampung
. So, untuk menanggulangi bencana alam biar nggak diketawain, aku selalu berusaha ngobrol pake logat Semarangan. Alhamdulillah, aku jadinya akrab ma anak-anak dari TL-Undip
.
Satu hal yang bisa aku berikan catatan, Semarang dan kota-kota lain di Jawa Tengah selalu memberikan perubahan berbahasa dan berbudaya bagi seseorang. Hal inilah yang terjadi pada
Daru yang asal Mojokerto (bahasa asli = 95% Suroboyoan), A’an yang asal Bojonegoro (bahasa asli = Bojonegoroan -mekso-
), Agus Sinaga yang asal Medan (bahasa asli = Medan), dan Hendra yang asal Purwokerto (bahasa asli = nggak ngapak-ngapak
).
Jargon di Undip adalah “Undip tho yo!” (in Indonesian = Undip gitu lho!
). Aku juga dapet kenangan berharga, sebuah slayer bertuliskan “Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan Undip 2008“. Selalu aku pake waktu ada event bareng anak-anak TL-ITS
.
Saat aku ngobrol bareng Teguh Taruna Utama, aku bener-bener merasakan kesejukan tersendiri… “ternyata Rohis kampus di Undip tetap hidup dan semangatnya terus berkobar”. Aku sempat kebingungan waktu di GSG Undip itu. Sejauh mata memandang, tak ada seorang ikhwan pun yang ujung celananya di-isbal meskipun dia berjenggot!!!
. Undip akhirnya punya masjid kampus yang diidam-idamkan, baru saja selesai di bangun. Sebelumnya, masjid Undip ada di mushalla-mushalla kecil di setiap jurusan studi. Yang bikin aku terharu, ternyata dalam setiap pengajuan proposal, anak-anak Rohis Undip selalu mengatas-namakan Allah SWT sebagai pelindung kegiatan mereka… Subhanallah.
Oya, ada satu lagi yang tak terlupakan, aku dipanggil “Afghan” sama anak-anak TL-ITB *siyalan, tapi bisa numpang tenar… lumayan*
anak Undip suka bergerombol ternyata, jauh beda sama saja dengan anak ITS
bentuk arsitektural yang unik, di ITS di mana-mana nggak ada lho yang kayak gini
inilah slayer gratisan kenangan dari HMTL-Undip, model : Bang Jack (TL-ITB angkatan ‘04)
Lawang Sewu…
“Mendengar nama tempat itu yang merasa takut angkat tangan saja ya, anak-anak! Nanti saya ikutkan tur waktu siang hari saja”, ujar Bu Guru sembari mewanti-wanti anak didiknya. Seketika itu juga seorang bocah laki-laki dengan pandangan matanya yang polos
menjawab, “Kami nggak takut Buuu! Kalau ada apa-apa kan Bu Guru yang menanggung!”.
Yah, begitulah refleksi sifat seseorang saat menyikapi sesuatu yang berbau klenik. Ada yang takut, tapi ada juga yang memandang semua itu sebagai ilmu pengetahuan yang tersamarkan
.
Aku sendiri heran ma Lawang Sewu ini, sebenernya tempat ini bagus banget kalo dirawat dan direnovasi secara bener. Indah banget arsitekturalnya, sistem sanitasinya juga. Tapi sayang, kecenderungan masyarakat Indonesia (khususnya Jawa -aku juga orang Jawa-
) yang dari kecil didoktrin untuk percaya pada klenik, seakan-akan berusaha untuk mengaburkan keindahan-keindahan dari sesuatu yang mereka anggap angker dan menakutkan itu.
Penjelasannya Insya Allah akan aku ulas di postingan selanjutnya. Tentang… Lawang Sewu.
para begundal IMTLI-ers dari Undip, ITS, STTL Jogja, UPN Jogja, dan ITB berniat melakukan vandalisme ekspedisi di Lawang Sewu
para begundal IMTLI-ers sedang menikmati sajian di Warung Pak Gik setelah menghancurkan pulang dari Lawang Sewu
(Untuk sementara sampai saat ini) demikianlah hal-hal yang membuat aku begitu mengagumi kota Semarang.
Mungkin bagi banyak orang Semarang itu biasa aja.
Tapi bagiku lebih dari sekedar amazing!
Nggak sabar pengen ke Semarang lagi…
*suara seorang bocah laki-laki dengan pandangan matanya yang polos terdengar lagi*
Link terkait :












mifta berkata,
10 Mei, 2008 @ 4:21 pm
“masih tertunda,dan blm smua kukatakan..biar ktunggu sampai ku kembali lg dsini..” (waktu mbaca postinganmu ini,mas lg dgr lagunya ipank,judulnya sekali lagi)hmm..kajian yg sgt mendalam..semoga tokoh2 yg ad d dlm crita d atas bisa ikutan mbaca..he6x
achoey sang khilaf berkata,
10 Mei, 2008 @ 5:30 pm
uih mantap
banyak fotonya lagi
menyatulah dengan alam!
alex® berkata,
10 Mei, 2008 @ 7:56 pm
Benar-benar jadi lupa sama sms merah
Minta sms yang manis-manis di pic itu donk
aRuL berkata,
11 Mei, 2008 @ 12:36 am
haiyah…. drainase…. itu juga yg saya tanyaken

blum lagi jalan ditambal dengan semen doang
haiyah semoga didengar pak rektor yakz yg notabene keahliannya di bidang itu
saya ke UNDIP 2007 lalu… suasananya akrab dan ramah banget, sampe tuh hari ada akhwat yg mengantarkan kita menggunakan motornya mencarikan tempat makan dengan alumni, padahal kita pake bus

betul2 ramah
saya juga sempat ketemu teman2 BEM UNDIPnya, 2 presiden BEMnya saya kenal taufan dan budi, tapi yg terakhir ngak
icHaaWe berkata,
11 Mei, 2008 @ 3:40 am
komen dulu… baru baca postingannya…abis panjang beneer…
oke degh nnt aku link balik,inet rumahku lg mate2 terus, besok2 aja yah
icHaaWe berkata,
11 Mei, 2008 @ 4:10 am
wah… aku kesemarang tuh seumur idup cuma sekali..itupun msh kecil dulu…
ternyata bukit2 gitu yah…tp kok bnyk yg blg semarang itu panas tenan??? pdhl dibukit…aneh.
gak ada ulasan ttg lumpia khas semarang niy??? huehehehe lg laper soalnya
realylife berkata,
11 Mei, 2008 @ 12:57 pm
setuju banget mas
kayaknya sich memang ada hal2 lain yang harus kita lihat . waspada boleh , tapi apakah harus menghancurkan keindahan yang lain yang ada ?
agungfirmansyah berkata,
11 Mei, 2008 @ 5:31 pm
“lupakan SMS layar merah, mending baca postinganku yang penting ini! (final part of travelling to Semarang)”
Bagian yang penting yang mana Ghan…??? Rasanya g ada deh.
winsolu berkata,
12 Mei, 2008 @ 12:23 am
mana yang penting?
tapi yang penting travelnya asyikk.
bingung juga?
hanggadamai berkata,
12 Mei, 2008 @ 1:57 am
*langusng lupa mw komen apa*
hanggadamai berkata,
12 Mei, 2008 @ 1:59 am
jadi pengen pulang ke solo..
lah kok malah ke solo
ManusiaSuper berkata,
12 Mei, 2008 @ 10:42 am
Semarang katanya mirip-mirip Banjarmasin ya? Panas, kotor, padat? Bener gitu?
Pujangga berkata,
12 Mei, 2008 @ 5:58 pm
Waduh laper….. sayang tu cuma pict makanan kalo ga dah gue samber dech!
Mrs. Fortynine berkata,
12 Mei, 2008 @ 10:24 pm
postingan penuh kenarsisan yang membuwat saya menyesal telah meluangkan waktu (dan benwit)
hayo, kapan kopdar karo aku?
mosok sak kampus ratau pethuk rek?
betewe, aku sepakat kalo terminalnya semarang itu puuuuwaraaaaah banget dan ndak cocok jadi terminal antar kota, apalagi di propinsi yang gede macam jateng itu
Chiw berkata,
13 Mei, 2008 @ 1:17 am
sing jelas, Arjosari itu terminal paling bersih yang pernah aku temui di dunia ini…
**hiperbolis**
aRuL berkata,
13 Mei, 2008 @ 1:23 am
iyo kapan kopdar jeh…
eh tiap minggu pagi di taman bungkul kita jogging dan senam lho.. datang lho
desmeli berkata,
13 Mei, 2008 @ 11:22 am
SMS merah bikin heboh tapi postingan ini pastinya lebih heboh dong
erander berkata,
13 Mei, 2008 @ 5:00 pm
Mau dong lumpia Semarang dan kue mochi nya hehehe
syahrizal pulungan berkata,
13 Mei, 2008 @ 7:35 pm
asik bener tuh jadi pingin juga apalagi lumpia mmmm…jadi laper
nenyok berkata,
13 Mei, 2008 @ 7:43 pm
Salam
Wah asyiknya traveling sampeyan bro, aku lom pernah tuh nyium semarang apalagi nginjek semarang, oleh2 to le bagi2 dong
Hasan Seru berkata,
13 Mei, 2008 @ 9:26 pm
Ghan, ayo kopdar, kita sekampus eh kok yo jarang ketemu yo?ya iyalah ITS kan besar gitu, heheee… sering lho diriku di Manarul.
cdsi berkata,
14 Mei, 2008 @ 7:09 am
WAHAI ANAK BANGSA” BANGUNLHAH!,
BUKALAH MATAMU!
BERDIRILAH DENGAN KAKIMU, SING-SINGKAN LENGANMU,
MARI BANGKIT! UNTUK INDONESIAMU TERCINTA
INDONESIA KITA TIDAK PERNAH MERDEKA!
INDONESIA KITA TERUS MENANGIS”
INDONESIA KITA TERUS MERANA”
INDONESIA KITA SELALU DI PERKOSA
“PELAKUNYA ADALAH IMPERIALISME ANAK SANG KAPITALIS”
NEGERI KTA DARI DULU SAMPAI SEKARANG TERUS TERJAJAH
SADARKAH KITA BAHWA TIGA PEREMPAT KEKAYAAN NEGERI INI
TELAH TERKURAS HABIS, OLEH SETAN IMPERIALISME
NEGERI INI MENYEDIAKAN SELURUH KEKAYAAN BUMI, MEMILIKI
SEJUTA PESONA, BAHKAN SEJUTA RASA.
KITA PEMILIK SAH NEGERI INI, NAMUN TERPASUNG OLEH SISTEM
IMPERILALISME MODERN, TERJEBAK OLEH SEKULARISME
PARTIKULAR, TERLENA OLEH HEDONISME SEMU.
SADARKAH KITA, SETIAP BANGSA BERHAK ATAS DIRI DAN
TANAH AIRNYA, AKAKAH KAU GADAIKAN DEMI KENIKAMATAN
SESAAT, TENGOKLAH KE BELAKANG!
MAU JADI APAKAH NEGERI INI?
BAGAIMANA NASIB ANAK CUCU KITA KELAK, JIKA KITA HARI INI
TIDAK PERNAH MEMBERI MEREKA KEKUATAN UNTUK MENGUASAI
NEGERI INI, DAN MENGOLAHNYA UNTUK KESEJAHTERAAN MEREKA
SEPENUHNYA, BUKAN UNTUK NEGARA TETANGGA, BUKAN UNTUK
ADI DAYA, DAN BUKAN PULA UNTUK INVESTOR.
IMPERIALISME NEGERI INI SUDAH KETERLALUAN, SANGAT
MENGERIKAN DAN MEMILUKAN, KITA TENTU TIDAK INGIN
SELAMANYA MENJADI BANGSA TERJAJAH, TERHINA,
TERLUKA DAN TIDAK MERDEKA.
MARI SATUKAN TEKAD, BULATKAN NIAT!
KITA HARUS MEREBUT KEMBALI SEMUA KEKAYAAN KITA,
JANGAN BIARKAN SAWAH DAN LADANG KITA DI BAJAK
ORANG, JANGAN BIARKAN LAUT KITA DI AMBIL ORANG,
JANGAN BIARKAN HUTAN KITA DITEBANG ORANG,
JANGAN BIARKAN BUDAYA KITA DICURI ORANG.
MARI KITA RAMPOK SEMUA BANK, MARI KITA SEGEL
SEMUA KANTOR PEMERINTAH, MARI KITA AMBIL ALIH
SEMUA PABRIK, MARI KITA GANTI IDENTITAS NEGERI
INI DENGAN BUDAYA KITA, BUDAYA TIMUR YANG SEJAK
DULU MENJADI DARAH DAN INSPIRASI HIDUP KITA.
PERSETAN DENGAN KEPERCAYAAN, PERSETAN
DENGAN SEGALA BENTUK KEYAKINAN, YANG JELAS
MEREKA TIDAK PERNAH MEMBERI KITA HARAPAN,
APALAGI KEBAHAGIAAN!
UNTUK MENJADI ORANG BAIK TIDAK PERLU PENGABDIAN,
TAPI HARUS DENGAN PENGORBANAN, PEPERANGAN DAN
MENEGAKKAN KEADILAN.
YANG BISA KITA LAKUKAN HARI INI ADALAH :
REVOLUSI
oRiDo berkata,
14 Mei, 2008 @ 1:16 pm
wah..
seru banget nih ..
travelling barengan ama temen2 emang seru..
teringat masa muda..
hehehehe…
GR berkata,
15 Mei, 2008 @ 2:38 pm
Seberapa ‘panas’ kah kota suroboyo yg nggak bisa dijelasin kata2 itu? sampai2 membuat siwi mendapat gelar ‘wariandong’? Heheu…
*dipanggang chiw*
Elys Welt berkata,
15 Mei, 2008 @ 6:52 pm
seru ya terlihat dr foto2nya
Alex Abdillah berkata,
16 Mei, 2008 @ 8:42 am
ass.
lumpia nya itu lho yang nggak tahan………bikin perut bernyanyi……..lapeeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrr.
salam kenal mas. thanks ya udah mampir di blogku. silahkan tuker link
ghaniarasyid answers :
abiehakim berkata,
16 Mei, 2008 @ 10:30 am
Wah cocok banget tuh lumpia semarangnya….hemmmmm enake
fisha17 berkata,
16 Mei, 2008 @ 10:38 am
Barusan baca harian surya, sekarang ganti telpon merah man. Ghan… ente gak aktif lagi di kronologger yah..?
yanti berkata,
16 Mei, 2008 @ 11:51 am
he he he.. lagi study banding atau.. lagi refreshing…???
Hmmm jadi inget zaman muda dulu…
seneeeng banget ya….
plain love berkata,
16 Mei, 2008 @ 4:09 pm
setau saya….
1. semarang itu bukan dataran tinggi… tapi dataran rendah banget… bahkan dibawah permukaan laut sepertinya…. ya memang semarang punya sebagian kecil kota atas…
2. banjir itu lebih sering karena air laut yang pasang aka rob… bukan karena air dari bukit…
plain love berkata,
16 Mei, 2008 @ 4:12 pm
oh iya satu lagi… kebanyakan tag strike itu bikin sakit mata dan pusing bacanya… hargai pembaca dong….
Inov Bluesman berkata,
7 Juni, 2008 @ 3:06 pm
ayo ke semarang lagi
r i a n a berkata,
22 Juni, 2008 @ 1:44 pm
assalamu’alaikum,,
waa,bngga deu smg dpuji2 gtu..
tpii agag gg betah jua klo siang dsini..
puanas poll!
ktanya orng2 c emg smg tu puanas buangd..
ku c gg ngerti..
gg prnah studi bnding k kota laen soalnya..hheu
oia,klo k smg lge,jant lupa mmpir k bandungan..
it keg puncak-jkt nya smg..
tmpatnya adem..msi ijo..sger deu..
bnyag tmpat pmancingan,terasering,truss pnjual tahu tempe su2 kdele jejer2..cz dsana it,tahunya jd trademark..
ad tmpat wsata bgus,namanya sidomukti..
bwd ksana,jalannya gronjal2,,suempitt,cmand 1 ruas jalan bwt 2arah,,sbelahnya rumah2 pnduduk[wspada thd pitik2 yg brsliweran!]
tpii shabis glap trbitlah trang!
truss ad jga gdong9..gg kalah bguss..tpii lbi tenar gdong9 dluan..
duh,gg ad abissnya deu klo dcritain..
mnding k ghani lngsung ksana ajj..
dtunggu critanya!^^