chapter I: epilogue Senin, 29 Juni 2009
Posted by ghani arasyid in creations.Tags: healing and folk, kisah, reflection, renungan
trackback

Udara dingin menusuk tulang
Membangunkanku di pagi buta itu
2:25 am
Sekitar 1,5 jam menjelang Fajr waktu Manhattan
Kudekati jendela apartemenku
Jalanan masih hidup
Harlem dipenuhi deru mesin
Benar-benar kota yang tak pernah mati
Kumainkan mesin pemutar pesan
“Good morning, you have one message”
[twiiit]
“Ghani, this is Ruslan.”
“Don’t forget of our appointment at Central Park South this evening”
“I’ll wait for you by Merchants Gate, 8th Avenue”
Ruslan Ismailov
Seorang firearms dealer ilegal asal Chechnya
Sama seperti imigran lain
Mengadu nasib di Amerika untuk meraih mimpinya
Atau lari dari masa lalunya
Masih teringat kisahnya yang dituturkan padaku di Farnwell’s Diner sore itu
Tentara Rusia membunuh keluarganya sepuluh tahun lalu
Juga Hayrunnisa, tiga tahun, putri semata wayangnya yang cantik di pagi berdarah itu
Saat dia tiba dari jama’ah shalat Fajr di Januari yang membeku
Aku juga harus segera menemui Sammy Webber pagi ini
Drug dealer Northern Bronx Families itu berangkat ke Phoenix sore ini
Ada sesuatu yang harus kukabarkan padanya
Tentang insiden yang terjadi dua hari silam
Tiba-tiba kudengar gebrakan di pintu depan
“This is New York City Police Department!”
“I’ll break the door if you’re not open it in 10 seconds!”
“Ten!”
Segera kuambil PDA dan dompet dari atas meja kerja
“Nine!”
Berlari ke cupboard, kuambil revolver Colt Anaconda .44 Magnum dari laci
“Eight!”
Ada yang ketinggalan, tapi aku lupa apa itu
“Seven!”
Masih diam tak bergerak, ada sesuatu yang NYPD tak boleh temukan… tapi masih belum ingat
“Six!”
Semakin panik, aku tak bisa berbuat apa-apa
“Five!”
Migrain-ku tiba-tiba kambuh
“Four!”
Akhirnya ingat, lembaran rekening itu di balik bantal
“Three!”
Kuambil lembaran itu dan berlari menuju jendela
“Two!”
Kubuka jendela dan melompat ke side-stair
“One!”
[brakkk!!!]
Berlari ke arah Harlem 148th St. (IRT Lenox Avenue Line)
Untungnya aku tak lupa membawa MTA Commuter Ticket
Kuambil jalur 5, Gun Hill Rd.
Menuju The Bronx
Andai Aisha masih menghembuskan nafasnya pagi ini
Dia pasti akan senang sekali karena ada permainan baru di Coney Island
Twilight’s riders
to be continue…
chapter I: epilogue bersambung ke
chapter II: erase/rewind
*copyright 2009 by Ghani Arasyid




















Waduh,,, game ini ya akh??? tapi seru kalo dibikin novel…
Aisha itu siapa?
bukan… ini insyaAllah sebuah cerpen-puisi
lihat saja kelanjutannya.
Ditunggu kelanjutannya.. ^^
bersabarlah menanti ^^
nice blog. nice story.. nice flow…
whoho… keren… asli keren…
saya bacanya sampe nahan napas…
Wah, cerita eksyen iki. Seru….
Tp apa si polisi new york itu ga ada yg ditugasin untuk nunggu di bawah jendela?
Assalamu’alaykum
wii.. kereen… tumben bikin fiksi, ditunggu lanjutannya
keren pak
saya tunggu lanjutannya
@ dian:
thanks ^^
.
.
.
@ yoan:
kesalahan, mbak
.
.
.
@ agungfirmansyah:
sebenere lebih ke arah Psychological Thriller
tunggu saja lanjutannya, bro… ini masih epilogue ^^
untuk menyergap seorang suspect yang sudah positif, prosedur kepolisian gag akan menghitung mundur seperti itu.
biasanya kalo bukan detektif yang nanganin kasus, bisa S.W.A.T… caranya langsung mendobrak pintu, menodongkan senjata api dan bilang, “freeze!!!”
bisa dimengerti kaitannya dengan cerita ini?
.
.
.
@ aliyah:
‘Alaykumussalam wa rahmatullahi wa barakatuh
.
.
.
@ Fairuz:
sebenarnya sudah pernah dulu, tapi tentang SMA ^^
.
.
.
@ andyan:
sip!
assalamu’alaykum…
puisi-cerpen ya..?
sayangnya aq ga mudeng. coz terlalu banyak nama yang aq ga tahu apa itu.. hiks…
padahal kayaknya menarik utk diikuti kisahnya…
yosha! maaf lama tak berkunjung brader…
lg pengen tenang, sembari membangun blog baru..
http://rigih.blogspot.com/
‘Alaykumussalam wa rahmatullah…
dibaca secara lengkap, jangan skip-reading ^^
yang saya tulis mirip kayak script film kok
terinspirasi banget oleh game buatan Quantic Dreams… Fahrenheit/Indigo Prophecy.
kalo background-nya heavy-minded sama film-film tentang NYC plus GTA IV-GTA: Chinatown Wars
hmm… kok pindah ke blogspot?
mau nyoba pasang iklan/online marketing?
tetep ga mudeng. binun. mungkin karena kisahnya ga terjadi di dunia yang aku kenal kali ya….
nggak papa…
tunggu aja kelanjutannya, mungkin bisa lebih jelas
rada nggak ngerti..
berkunjung
*melongo…(lagi!!)*
saya merasa dibawa ke tempat yang jauuhhh… >_<
waahh… masih bersambung ya, Nisa tunggu yuuh…
puitis terus..
kapan berprosa..
@ zahra:
mungkin belum terlalu mengerti gaya bahasa film script ^^
.
.
.
@ soulharmony:
silahkan
.
.
.
@ Nisa:
jangan melongo, cukup memejamkan mata membayangkan New York City
^^
sip!
.
.
.
@ masbadar:
ini puisi-prosa kok, sebuah fusion
Endi iki to be countinue’e?
Selak kesuwen rek…
Sabar… masih banyak kesibukan
cerpen yang berpuisi cukup baik namun karena tempatnya diluar negri dan karakternya belum tau kita hanya mengira -ngira .tapi yang jelas kreatif dan berani.
giman kalo bikin lagi namun di indonesia gitu loh
Ini bukan mengira-ngira.
Tapi dari studi tentang New York City, sampai ke detil nama-nama jalan, jalur subway-nya dan juga ambient dari New York sendiri.
Kalo di Indonesia kan sudah terlalu sering, di blog saya juga ada banyak. Saya ingin melakukan review tentang tempat nan jauh
Terima kasih sudah berkunjung.
ditunggu filmnya. ^^
by the way, great work. keep writing.
agak susah kalo mau nge-film-in.
berarti syutingnya harus di New York
terima kasih, Ara ^^
wew,, penuh semangat yg menggebu gebu ya
harus optimis kaghan. Gk ada yang gk mungkin di dunia ini. Yang hampir gk mungkin ada. haha. nanti kalau dibikin film, aktrisnya ara ya. hahahahha
@ edda:
semangat menulis mungkin
.
.
.
@ Ara:
Ya ya, bener…
Hmm, itu sih tergantung ntar tokohnya sapa aja di filmnya
knjungan balik
hahaha.
tenang kaghan, ara bisa memerankan apa pun kok. hahaha
@ kharinblog:
terima kasih
.
.
.
@ Ara:
Lanjutkan, Ghani-sama!
baiklah, San-chan ^^
wehehe.. aku bacanya mundur.. jadi blum mudeng.
*balik lagi ke chapter II*
gedubrakkk! gubrakkk… gluntang gluntang!!!
*ketiban lusinan laptop xD