chapter III: lights will guide you home
February 14th, 2010 § 26 Comments
-Sunday; March 29th, 1998-
“Do you ever love the lights, the lightness?”
Jennifer bertanya padaku sambil memandang kilauan cahaya senja
yang memantul di atas East River
saat kami berdua berhenti sejenak di atas Brooklyn Bridge di akhir Maret itu
“Actually, I’m not really love any lightings. I always feel secure in the dark. What’s the matter? Why you ask me that?”
mata Jennifer masih terus memandang East River saat menjawab pertanyaanku
“Haha. You’re just so rude, dear. Without lights, could you able to see this beautiful world? Could you ever able to see me and our Aisha?”
“Well, maybe those are the only exception for me”
kami berdua tersenyum
memang apalagi keindahan di dunia ini yang menandingi istri dan putriku?
“Oh! It’s already five! Let’s take Aisha, I don’t want she disturbs the rest time of my Mom”
“Okay then”
aku sampai lupa bahwa Aisha masih kami titipkan ke ibu Jennifer, Mrs. McFadden, selama kami ke Brooklyn untuk mengurus rumah baru kami di sana seharian ini
Alhamdulillah, hasil bekerja keras selama 5 tahun di sebuah perusahaan multinasional sudah cukup untuk membeli sebuah rumah yang nyaman
jauh dari keramaian pusat kota seperti Manhattan yang sangat tidak baik untuk perkembangan anak
kami berjalan pelan menyusuri pedestrian pavements Nassau Street
ketika tiba-tiba terdengar suara decitan ban mobil dari dalam gang sempit
“brakkkk!!!”
kejadian itu begitu cepat
sebuah Toyota Prius berwarna hitam menghantam kami berdua
aku mencoba mengingat license plate mobil itu
BNT – 3530
dikemudikan seorang pria yang menggunakan jaket jeans
“Johnny! Call the reinforcement!!! That Godda**ed crook must be stopped!!! Oh my holy s**t!!! Are you alright, Sir?! Madam?!”
seorang opsir NYPD berlari keluar sambil berteriak-teriak ke temannya, ke kami dan ke arah radio transmitter yang dia genggam
“I’m Officer James Westhouse of NYPD! ID number 497600024! Bring an ambulance here, at Nassau Street, in front of Conzione’s Deli!”
aku menghampiri Jennifer, kuangkat kepalanya yang penuh darah
“Hold on Jenny, an ambulance will come in a minute!”
“I’m sorry, dear. I’m sorry for not with you and Aisha more longer”
“What are you talking about?! You’ll be alright soon!”
tak terasa air mata meleleh deras melalui pipiku
“No, just go on for Aisha and promise me that you will always love the lights”
Jennifer menatapku sambil tersenyum, senyuman terindah dari seorang wanita tercantik yang pernah ada di dunia ini
“I promise”
Suaraku hampir tak terdengar
“Stop crying, dear… because lights… will… guide… you… home…”
suara Jennifer tersendat, memudar, dan akhirnya lenyap
ditelan cahaya mentari senja yang menyilaukan
memantul di jendela gedung-gedung yang berdiri dengan angkuhnya
to be continue…
chapter III: lights will guide you home bersambung ke
chapter IV: flares
chapter III: lights will guide you home adalah sebuah postingan bersambung dari
chapter II: erase/rewind
chapter I: epilogue
*copyright 2010 by Ghani Arasyid

pertamax!!
baca..baca… wah ndak mudeng juragan
mantap….
@Kang Sadat:
memang yang pertamax biasanya ga mudeng
.
.
.
@Mas Arul:
terimakasih
kok bisa sihh??ngerti tempat2nya gitu?
pemeran utmanya namanya sama sama yg bikin yah?hha
but i cant imagine how the casts look like, could you define it later?
Aisha, malah kyk ponakan yg ada di bayangan saya, pasti masih imut-imutnya x)
belom komen ternyata..hemm ni cerpen agi yah?
Setuju sama riana di atas.
Itu detail jalan, dan tempat2nya, somehow terasa nyata sekali…
Research dulu?
Dan lagi-lagi chapter tiga juga ninggalin sesuatu yang nyelekit setelah saya selesai membacanya…
Loh, kekomen pake id lama, ah, biarlah =))
ayo lanjut2
latarnya di luar negeri euy, aku rada katrok, hahaha.. Makanya pake bantuan wiki ya? buat bantu pembaca katrok, hehe
wakh lagi asyik baca….hehehe ternyata masih to be continued
@riana:
sebenernya dari “merasakan” New York dari berbagai sumber (film, game, dsb)
karena rasanya aneh kalo pake nama orang lain, dianya jadi ke-GR-an ntar
kayaknya untuk menjawab pertanyaan ini harus difilm-kan dulu deh
.
.
.
@Ukht Hikmah:
iya, lanjutannya yang dulu-dulu
.
.
.
@Fairuz:
iyah, dengan jawaban yang sama dengan riana di atas
iya, sengaja agak sedikit “flashback” tentang masa lalu si tokoh utama… tapi harusnya dibuat satu chapter aja kali ya? biar kesannya ga de ja vu
.
.
.
@phiy:
tunggu saya namatin Thief: Deadly Shadows dulu
begitulah, sebuah bantuan bagi yang belum tahu NYC *padahal saya sendiri juga belum pernah ke sana
.
.
.
@Beranda Jiwa:
terimakasih sudah berkunjung
dalam…semacam kisah nyata yang pernah penulis alami. apakah ini sebuah refleksi hati penulis pada knyataan hidup anda? air mata tak akan bisa menggambarkn sejuta makna dalam jiwa. sangat dalam… bagus sekali
keren akh, ini flash back kan?
lanjut, gan…
itu… ada yang di bintang-bintang… s**t, apa hayoo
bagus, euy… rasanya saya ikut berjalan ke sumber cahaya…
^_^ hmm… gedung2 memang angkuh…. *mangkanya kalau di Surabaya saya kangen gunung…. T_T* (lah… gak nyambung)
muantabs wes!! Lanjuutt….. ^^/
@Ukht inty:
saya agak bingung menjelaskannya. tapi saya punya berbagai macam inspirasi untuk menulis kisah ini, yang tentunya diantaranya berasal dari pengalaman pribadi
terimakasih
.
.
.
@mbak Mel:
iyah
ditunggu ya!
.
.
.
@Nisa:
disensor
sengaja untuk menggambarkan realisme di lapangan
hehe
belum ngerasakan Jakarta nih… lebih angkuh dari Surabaya
OK. ditunggu ya!
Tak sengaja lelehan air mata tiba” jatuh..
Ceritanya mengharukan..
*ngusap air mata*
Untung aja nggak sampe sesenggukan nangisnya..
haha…
ini sedang fase flashback.
sebenarnya ceritanya keseluruhan lebih ke arah action
huaaaaa sedih banget ceritanya, keren ih bikin ceritanya digabung english gitu mirip novel terjemahan
bukan novel terjemahan >,<
ini script film
lanjut juragan
delay-nya kayaknya bakal lama untuk chapter IV.
inspirasi belum datang
waih…
ini komen ke-4 sayah…
he..he..
Ternyata ini sebuah cerpen…yang kalo diperluas bisa jadi novel dan kalo lebih luas lagi bisa jadi novel…
Mantap2!!
Genre-nya…Drama Actionm ya ?
Kisah yang tidak begitu panjang spt ini amat mudah memancing rasa penasaran..
dan
sayah…jadi penasaran…he…he..
sudah saya jelaskan sebelumnya…
ini semacam script film.
jadi penuturan ceritanya agak berbeda
karena kalo terlalu panjang jadi tidak seru, tapi mungkin ada chapter yang nanti bisa panjang banget
terima kasih apresiasi-nya dan stay tune ya!
Lights will guide you home
And ignite your bones
And i will try …
Penggemar coldplay kk?
Wow, bnyk pnggemar coldplay dsini…
Good story after all,,
bukan… saya tidak suka Coldplay karena kurang “galak”
saya hanya suka puisi-puisi dan kisah yang ada hubungannya dengan hati
Ohh, bukan toh…
Habis ada quote dari lirik fix you c, i.e. Lights will guide you home,
Anyway setelah aku baca dari chapter I ada beberapa catatan yang mau aku garisbawahi.
- plot/alur cerita mundur, hmm…
- chapter 1 kenapa dikasi judul epilogue:-(? Bukannya mestinya prolog ya?
- terus2, berpulangnya 2 orang tercinta ghani agak kurang-gmana gitu ya- it’s all of sudden. Agak kurang terasa nuansa emosinya,, pmbca belum mengenal jauh para tokoh, but they’ve gone already.
Ok segitu dlu aja de review dariku, kapan2 disambung.
karena… rahasia, nanti akan tahu sendiri alasannya
itu adalah salah satu style penceritaan non-linear. sudah pernah baca Fight Club? itu salah satu yang punya gaya penceritaan non-linear
terimakasih, tapi saran saya: nikmati dan selami saja berbagai sudut dari cerita ini, jangan dinikmati layaknya kisah² biasa. saya agak sedikit memasukkan sisi psychedelic