chapter IV: flares
January 14th, 2012 § 18 Comments
kelabu
mendung tebal memayungi Midtown Manhattan saat sinyal itu dinyalakan oleh Matthew Sigorini dengan melemparkan molotov-nya menuju barisan riot police
seketika itu juga ribuan demonstran mengikuti dengan menerbangkan ratusan batu ke arah yang sama
begitulah, New York dilanda riots mulai hari ini
situasi kota memanas sejak kemarin saat Jonathan Hayes tewas di tangan NYPD
pemuda 18 tahun itu terkena tembakan di kepalanya dalam aksi anti-NWO di Times Square
hey tunggu, tujuan kami siang ini bukan mengikuti riots yang disebut oleh seorang reporter TV tak jauh dariku itu sebagai “The Most Violent Moment in New York City’s History”
aku, Ruslan Ismailov, James Richardson dan Martin DiMaggio punya kesibukan lain
ya, kami akan merampok Bank of America di Sixth Avenue itu dengan memanfaatkan riots untuk mengalihkan perhatian NYPD
manhole yang berjarak sekitar 500 meter dari bank dibuka Ruslan dan kami segera masuk ke dalamnya
ternyata di dalamnya terdapat tunnel yang terhubung ke basement bank
“that’s just another little art from a former Old Country’s hero”, kata Ruslan sambil meringis ke arah kami sambil mengingatkan untuk memakai balaclava
ternyata tunnel itu berakhir di manhole resapan air basement bank
perlu waktu sekitar lima menit untuk bisa sampai ke pintu emergency dan membuka sensor pengaman
James tidak kesulitan memakai gadget pengacak sensor yang seakan berasal dari masa depan itu
lulusan MIT yang entah bermimpi apa hingga dia masuk ke geng kecil kami
tanpa kesulitan yang berarti, kami berhasil masuk ke dalam brankas bank yang sangat luas
“take the packages with non-ordinal serial number, we can’t take too much risk in laundering them”, Martin memberi instruksi kepada kami
generasi ke-3 dari famili mafia DiMaggio itu rupanya sudah sangat paham dengan hal seperti ini
kami sudah bersiap-siap meninggalkan brankas dengan masing-masing orang membawa dua package ketika mendengar suara teriakan
“NYPD! surrender now or we’ll use lethal force to take all of you down!”
seseorang berompi anti-peluru bertuliskan “SWAT” dan memakai balaclava hitam mengarahkan M16-nya ke arah kami dengan diikuti rekan-rekannya yang datang menyusul
“Godda**it James! you told us that we’ll take this f**king robbery as easy as turn your f**king hand!”, Martin membentak James dengan penuh amarah
James menjawabnya dengan suara bergetar, “I-I really don’t know, bro! I have disabled all of sensors and CCTVs in this bank!”
seketika Ruslan menembakkan AK-47 nya ke arah tim SWAT itu
baku tembak akhirnya terjadi di misi yang sebenarnya kami rencanakan untuk berjalan dengan stealth ini
dan disudahi setelah aku melemparkan dua hand grenade ke arah mereka
“requiescat in pace“, kataku sambil membungkuk pada lima jenazah tim SWAT itu saat kami keluar dari brankas
[dor! dor! dor! dor!]
tiba-tiba aku melihat James terjatuh dan bersimbah darah
“I said, requiescat in inferno, you f**king pig!”, Martin memberondongkan senapannya ke arah personel SWAT yang ternyata masih bernafas dan menembaki James itu
Martin langsung membuang senapan dan memegang kepala James, “I’m so terribly f**king sorry for what I said to you, amico. just don’t die here!”
“Godda**it man! James f**king Richardson! Sammy told me that I must keep this f**king geek to stay alive!”, dia memegangi kepalanya sambil meratap setelah James cuma diam tak bergerak dan tak bernafas
Ruslan membantunya berdiri dan berkata, “Come on, comrade. we must escape from this building. those SWAT guys must have a ton of angry companions out there. we can bring the sad news for Sammy later”
Aku dan Ruslan membantu Martin menuju basement
sekilas aku melihat bayangan itu dari balik pintu transparan bank
seorang perempuan berambut pirang dengan tatapan kosong
perlahan memudar dan lenyap ditelan cahaya
“oh, Jennifer. what have I done?”
to be continue…
chapter IV: flares adalah sebuah postingan bersambung dari
chapter III: lights will guide you home
chapter II: erase/rewind
chapter I: epilogue
*copyright 2012 by Ghani Arasyid

Ngeri Mas, saya pikir ini… catatan Mas Rasyid beneran… saya pikir ini kenyataan…
*tangan gemetar*
:hammer:
kaget saya, kirain cerita apaan atau walktrough game gitu he he..
ini juga cerita, masbro -_-”
kalo walktrough game mending cari di gamefaqs.com
nggak ngerti krn belum tahu bagian awalnya
….. terus terang blom pernah baca postingan seperti di atas, lain drpd yg lain
hey .. seneng ketemu lagi lewat blog, makasih ya
terimakasih, mbak Ely.
mungkin karena terlalu banyak main game & nonton-baca genre action-thriller
*danke udah berkunjung balik
kirain juga nyeritain pengalamannya, tapi diluar emang ngeri jika lihat di tv demo-demonya, mudah – mudahan di indonesia demonya tidak brutal deh…..
ini kisah fiksi aja kok
di sini bukannya sudah sering banget demo anarkis kan? apalagi di Mei 1998 itu.
terimakasih sudah berkunjung
wow .. adegannya seru seperti di film “spionase”, mas gany. setting ceritanya ini di amrik, ya?
Hampir mirip seperti film “action” saja.
Adegan yang dapat menggetarkan adrenalin sekaligus menegangkan.
@sawali tuhusetya:


begitulah Pak, saya suka action-thriller
iya, NYC selalu bikin saya terkesima. kebetulan itu lanjutan dari semacam cerbung saya lama ga saya lanjutin dulu
.
.
.
@danyf5habibi:
karena saya cowok, maka kisahnya harus punya soul cowok juga
*lah, emoticonnya kok nangis?
wew, novel ya??
lebih tepatnya: cerbung
Salam..
kewl story.. *nunggu lanjutannya..
keren tulisannya. meski belum saya baca yg sebelumnya. cuma mau komentar aja: Chapter 1 kenapa dinamain Epilogue? Bukankah seharusnya Prologue?
@Nenyok:

salam kembali…
insyaAllah ga lama-lama lanjutannya keluar
.
.
.
@indobrad:
dinamakan Epilogue karena flashback
makasih udah berkunjung
iiiih, after a long time, ternyata lanjutannya keluar juga
inspirasi baru datang setelah setahun lebih