ITS tanpa Pengkaderan – tulisan oleh seorang sahabat, dg sedikit penyempurnaan

September 18, 2006 § 28 Comments

ITS tanpa pengkaderan???

ITS tanpa pengkaderan sama dengan nol. Rumus ini jelas banget, masalahnya, dari tahun ke tahun pengkaderan selalu jadi tradisi ITS.
Ironisnya, dulu sekali kira-kira tahun 80an sempat tidak ada pengkaderan di ITS. Tapi, itu nggak bertahan lama. Kesimpulannya, pengkaderan bukan hanya sebuah tradisi melainkan sebuah kebutuhan.
Akhir-akhir ini, juga sempat tersuar kabar bahwa pengkaderan, dalam hal ini ospek, akan ditiadakan. Tahun 2006 inilah yang bakal menjadi tahun pertama peniadaan ospek. Tapi ternyata, semua jurusan di ITS masih mengadakan acara ini. Hanya saja, mereka dibayang-bayangi oleh SK Rektor yang kadang-kadang nggak masuk akal.
Beberapa jurusan sudah membubarkan acara ospek mereka, dengan alasan yang beragam. Ada yang melanggar dan ada juga yang takut dikenai skorsing. Misalnya saja, Teknik Lingkungan.

Di Teknik Lingkungan, istilah ospek lebih dikenal dengan nama MKL (Masa Kenal Lingkungan). Kira-kira dua hari yang lalu, sempat ada orang tua maba yang melaporkan tindakan penugasan yang diberikan oleh SC kepada pihak dekanat. Denger-denger, orang tua maba tersebut adalah salah satu orang besar di ITS. Jadi, kontan saja pihak dekanat memanggil Kahima, Ketua SC, Ketua OC, dan Kadep PSDM. Setelah beberapa waktu bernegosiasi dengan alot, akhirnya keluarlah keputusan bahwa MKL dibubarkan.
Hari Sabtu ini, yang seharusnya menjadi hari MKL ke-5, tiba-tiba berubah menjadi hari yang kelam. Pukul 07.00 WIB, semua panitia MKL turun ke lapangan. Kahima, SC, IC, dan OC mulai menunjukkan wajah kecewa. Sayangnya ini bukan skenario. Kami benar-benar kecewa pada maba 2006. Setelah Kahima mengumumkan pembubaran MKL, kami hanya melihat kira-kira 10 orang dari 113 maba yang protes. Sisanya, ada yang menangis, dan banyak juga yang terdiam. Tapi ada satu oknum yang justru tersenyum puas. Dia merasa misinya berhasil.
Siangnya, beberapa panitia melakukan sharing dengan Kajur, Sekjur, dan juga salah seorang dosen senior. Mereka merasa sangat berat menerima kenyataan itu, kenyataan bahwa MKL benar-benar harus bubar. Mereka semua dihantui kebingungan yang amat sangat. Memang, itu keputusan dari kami sendiri. Perlu diketahui, kami terpaksa mengambil keputusan itu.
Setelah sharing, Kajur menyetujui bahwa MKL benar-benar harus di-adakan kembali. Tapi dengan metode yang berbeda dari sebelumnya. Tiba-tiba, HP pak Kajur berdering. Ternyata, beliau mendapat telepon dari Dekan. Lantas, pak Kajur menanyakan kepada kami, apakah kami mau menerima kedatangan Dekan atau tidak.
Kira-kira setelah shalat Ashar, Dekan FTSP, yaitu Pak Probo datang. Dalam diskusi tersebut, kami berusaha meyakinkan beliau bahwa MKL sangat diperlukan oleh setiap generasi. Awalnya, beliau mampu menjawab keluhan kami dengan bagus. Tapi satu hal yang saya benci dari beliau. Beliau selalu menggunakan pemikirannya sendiri untuk menyelesaikan masalah tanpa mau peduli dengan pemikiran orang lain. Seiring bertambahnya waktu, perdebatan makin panas. Dan lucunya, jawaban beliau selalu tidak sinkron dengan pertanyaan dari kami. Sebenarnya, aku ingin sekali protes. Tapi, ada rasa nggak enak. Masalahnya, posisi beliau jauh di atas posisi kami.
Dari hal ini, dapat aku simpulkan bahwa dengan posisi beliau sebagai Dekan, beliau bisa memberikan doktrin-doktrin baru pada kami sehingga kami hanya bisa terpana dan menganggukkan kepala.
Ada satu jawaban beliau yang membuat aku emosi. Beliau bercerita, Pak Nuh, Rektor kami marah kepada hima sthapati yang merupakan himpunan mahasiswa arsitektur hanya gara-gara lambang himpunan sthapati. “Warna lambang ini harus hijau tosca, seperti yang ada pada faber castell nomer sekian-sekian…dan harus seragam. Apa ini tidak Gila?” Begitu kira-kira ucapan Pak Nuh waktu itu. Kemudian, Pak Probo menambahkan, “pengekangan warna lambang seperti ini yang membuat kita, orang Indonesia tidak bisa maju. Apa salahnya jika lambang sthapati diganti warna merah? Dan keseragaman, benar-benar telah melanggar hukum alam.”
Ucapan itu benar-benar membuat aku muak. Sayang, aku nggak bisa berbuat apa-apa. Aku ingin protes, tapi aku nggak bisa. Aku sempat berpikir. Misal, aku bukan anak ITS, tapi aku diminta untuk membuat lambang ITS yang baru dengan dominan warna biru. Terus terang saja, aku akan bertanya-tanya, kenapa harus warna biru? Bukankah warna pelangi lebih ceria, atau kalau tulisan ITS-nya di-modif pasti lebih bagus. Dan kalau aku benar-benar memodif lambang itu dan kemudian kutempelkan di spanduk lalu spanduk itu dipasang di daerah ITS, pasti pihak rektorat marah besar.
Bukankah filosofi ini sama dengan filosofi tentang warna lambang sthapati? Dan yang lebih parah lagi, kita semua selaku mahasiswa ITS pasti sepakat dengan ke-seragam-an lambang ITS. Bukankah ini juga menyalahi hukum alam? Apakah hanya karena lambang ITS adalah lambang yang universal di kalangan masyarakat ITS, maka hukum alam disalah-gunakan?
Kedua, aku juga ingin mengatakan bahwa esensi yang aku dapat dari MKL tahun 2005 adalah pressing-nya. Pressing yang dilakukan di sini bukan kontak fisik, melainkan lebih mengarah pada pressing mental. Hari-hari pertama mengikuti MKL, adalah beban sangat berat bagiku. Apalagi, sewaktu para IC mulai melakukan pressing. Rasanya benar-benar seperti terong penyet. Lembek dan tidak bisa kembali ke bentuk semula setelah digencet. Dari situlah, aku mulai berpikir bahwa aku dilahirkan bukan untuk menjadi orang yang lembek.
Dari peristiwa itu, aku mulai mencoba untuk bangun, bangun, dan bangun dan menjadi seperti sebuah agar-agar yang bisa kembali ke bentuk semula setelah mengalami gencetan. Karena itulah, aku yakin bahwa pressing dapat menumbuhkan kepercayaan diri seseorang.
Satu hal lagi yang perlu saudara ketahui. Tadi Pak Probo sempat bercerita bahwa beliau adalah angkatan yang bebas dari ospek. Tepatnya pada tahun 1980. Intinya, percuma kami debat dengan pak Probo mengenai masalah pengkaderan, beliau ‘kan tidak ikut pengkaderan (ospek), jadi beliau tidak bisa merasakan apa yang kami rasakan sekarang.

Redityo Prabowo (3305.100.0**)
Sabtu, 2 September 2006

§ 28 Responses to ITS tanpa Pengkaderan – tulisan oleh seorang sahabat, dg sedikit penyempurnaan

  • Anonymous says:

    Thanks udah nge-muat tulisanKu
    Moga2 aja banyak yg baca,asal jgn Pak “F***’n” Probo aja.. (Takut d skors hehehe)

    Aq ada lg lho, satu tulisan…
    Kali ini tentang OC OKL 2006…
    Kamu (ghani) kan pioneer, pasti ngrasain banget kan…, kyk aq

    Ok d, thx2

  • makasih atas tulisannya, bro🙂

  • 52091000** says:

    wahwah ..
    keren maas .. jujur saya pengen diadakan lagi pengkaderan seperti tahun” yg lalu .. sy angkatan 2009 .. jujur saya pengen pengkaderan cara lama .. cz skarang d jurusan sy tmen satu angkatan saya cenderung apatis cz jarang d press .. hufh ..

  • sama-sama…
    ini tulisan sahabat saya🙂
    tapi nda papa, apapun kebijakan dari Rektorat… diambil sisi positifnya saja.

  • 33091000... says:

    nice share mas,.
    tapi abis baca tulisan ini,yg bisa ditangkep sulit juga berbicara dengan orang yang beda latarbelakang,seperti tadi pak probo yg ga pernah ada ospek dengan panitia ospek yg pernah ngalamin beratnya ospek,jadi dua pandangan ini emang ga bisa disatukan mas

  • sama-sama. memang susah juga mau nerapin pengkaderan di jaman sekarang…😦

  • lia.. says:

    bagus banget tulisannya,, bisa memotivasi..
    keadaan pengkaderan sekarang lebih lembek daripada tahun2 sebelumnya mas.. pak ‘p’ hampir mengekang kami dalam setiap kegiatan pengkaderan..
    ada saran atau jargon kah sebagai penyemangat pengkaderan 2010 ini mas…???
    terima kasih..

  • lia says:

    mas.. itu Nrp nya dihapus ajah…
    napa aku cantumin ya..

  • saya (yang menunggu wisuda September depan) punya pendapat gini:

    mungkin semua peraturan yang terbaru itu adalah imbas dari “tuntutan jaman”. di mana perploncoan sendiri dulu banyak ditentang dan menimbulkan kontroversi.
    mungkin solusinya bisa diatur dengan “main cantik”. jadi, kita jadikan pengkaderan itu “sisi luarnya” menarik dan mengundang antusias, tapi di dalamnya tegas… siapa yang melanggar aturan tak bisa menjadi warga Hima. gitu saja menurut saya🙂

  • Agastya Kurniawan says:

    hmm.. tahun 2006 yah..
    klo ndak salah aq masih jd IC (gak aktif) niy..

    Sebenarnya siy yang paling ditakutkan waktu ospek/MKL/dll.. adalah timbulnya korban.. Timbulnya korban inilah yang patut diwaspadai, sebagaimana kita tahu didunia kerja jika timbul korban pasti akan bermasalah juga.🙂

    Nah, seringkali memang kita kurang sigap jika menangani timbulnya korban ini.. maklum kita blom berpengalaman dalam mengatasinya, karena kita mahasiswa yang pengetahuannya masih terbatas.

    Mungkin skrg jamannya ospek/MKL “lembek”, maksudnya no pressing tapi bobotnya lebih bermutu.. Nah inilah tantangan mahasiswa ITS yang dulu terkenal dengan pressingnya yang keras dan lugas menjadi ITS yang lebih kalem dan bermutu.

    Sanggupkah kalian para maba yang “bebas ospek”…

  • vedeach says:

    apa satu-satunya cara untuk pendapatkan “kebersamaan” dan “tanggung jawab” itu harus melalui “pengkaderan lama” yang banyak ditakutkan oleh sbagian orang tua, padahal hampir sbagian besar yg terjadi sebenarnya tidak terlalu berat untuk dijalani oleh seorang mahasiswa yg sedang belajar hidup mandiri jauh dari orang tua..

    harusnya saat ini dapat dimunculkan sistem “pengkaderan” yang benar2 baru tp memiliki tujuan dan manfaat..sehingga pandangan negatif terhadap istilah pengkaderan dapat dihapuskan.

  • Superman says:

    mangstabh mas…
    mumpung lagi pilrek neh…jangan pilih yang lama…😀

  • @Superman:
    provokator ulung dirimu:mrgreen:

  • haruchan says:

    kalo boleh tau pengkaderan itu max brapa lama yah?
    sy mhsw elektro 2010 nih.. pengen tau aja boleh kan hehe

  • haruchan says:

    @ghani arasyid : yang dimaksud melanggar aturan itu seperti apa ya? kebetulan saya tidak membuat tugas tertentu pas ospek karena alasan tertentu juga..mau tanya juga ospek/pengkaderan 2010 utk angkatan 2010 ini berlangsung sampai berapa lama yah? apakah 1 semester?

  • jawaban untuk haruchan:

    1. pengkaderan itu bagi saya adalah seumur hidup. tapi dalam konteks di sini, pengkaderan bertujuan untuk masuk himpunan mahasiswa-mu, bila kamu memang berminat masuk. jadi, seandainya kamu memilih untuk tidak mau ikut pengkaderan, itu terserah… tapi akan merasakan sedikit “pengasingan” pada dirimu.

    2. “melanggar aturan” itu, maba menyalahi aturan yang dibuat oleh hima, sehingga dia tidak lulus sebagai warga himpunan… atau lulus tapi bersyarat. untuk penugasan itu semuanya tergantung kebijakan Kahima + SC-mu. pengkaderan selama yang saya tahu itu biasanya 1 tahun. karena selalu ada program lanjutan… seperti magang di kegiatan yang diadakan himpunan.

  • haruchan says:

    @ghani arasyid
    sedikit pengasingan selama 1 tahun (mungkin juga setelahnya).. nice -_-”
    ok, skarang tinggal memperjuangkan lulus bersyarat..
    sebenarnya sy tidak berminat masuk, tapi tdk mau merasakan pengasingan itu, hanya akan mempersulit jalan saya kedepannya..
    apa boleh buat..
    trimakasih banyak atas penjelasannya

  • 52071000** says:

    wow, aku baru baca artikel ini, mas..

    J U J U R

  • Faye says:

    baru tau ada artikel inio_O

    sama kayak kasusnya di universitas saya juga, apa dimana-mana memang pihak birokrat kampus lagi pengen menghapuskan kegiatan ospek, terutama di fakultas teknik yang ospeknya biasanya memang lebih keras dibandingkan fakultas lain? =?

  • begitulah, tampaknya generasi penerus kita akan jadi semakin lembek😦

  • Cristiano says:

    Pengkaderan adalah DESKRIMINASI!!!!
    dan harus diputuskan mata rantainya!!!!!!

  • ^
    ^
    ^
    contoh mahasiswa apatis dan tidak mengerti esensi sebuah Pengkaderan🙂

  • aabbcc says:

    miris banget baca blog ini.. igit-igit gitu.. saya juga anak its (ini mbak ato mas yaa? hehe) jelas ga trima..
    lagi-lagi birokrasi..😦

  • renimita says:

    tidak sabar menunggu waktu itu🙂

  • wah, mau masuk ITS ya?🙂

  • De Er Es says:

    berhubung saya maba saya posting aja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading ITS tanpa Pengkaderan – tulisan oleh seorang sahabat, dg sedikit penyempurnaan at chasing the pretty rainbow™.

meta

%d bloggers like this: