not another teenage story

March 14, 2008 § 2 Comments

Nothing compares to a quiet evening alone
Just the one, two I was just counting on
That never happens
I guess I’m dreaming again
Let’s be more than’ this
– Crushcrushcrush, Paramore

raindrops_by_pagliacciomorto.jpg

Tepat dua minggu setelah vakum nge-blog. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, memilih wordpress sebagai sarana nge-blog untuk seterusnya (mungkin selamanya).
Bukan saat yang pas untuk mbahas ketidaknyamanan blogger untuk menyediakan blog dengan komunitas yang sangat luas dan fasilitas comment yang menakjubkan, karena aku masih bergantung pada blogger
dalam penulisan text dan fasilitas google-nya.

Okeh. Berlanjut di perjalananku yang memorable dan berliku-liku dalam dua minggu ini.

Akhir pekan lalu aku bersama I Wayan Sutayasa (jelas orang Bali), anak Tabanan yang satu kelompok KaPe denganku, melakukan survei lapangan di Leces, Probolinggo.
Perjalanan ini sebenernya dihiasi dengan kekacauan pikiran, karena kita masih belum fix mau KaPe di mana. Tujuan utama kita adalah ikut proyek Bu Ati Hartati yang lokasinya di Bali, di daerah Nusa Dua-Sanur-Kuta (deuuuh… bayangin namanya aja udah seneng!). Tapi hingga tulisan ini aku ketik, belum sempet kita ketemu Bu Ati.

Alkisah, bus yang kita tumpangi sepanjang pulang-pergi standard2 aja. Tapi yang nggak standard adalah pada saat milih bus di terminal Purabaya, kita dijadiin rebutan para calo dan kondektur bus yang rata-rata etnis Madura (maaf bagi yang merasa disindir…hehe). Juga kenyataan bahwa kita salah turun di perumahan karyawan PT. Kertas Leces (Persero), Probolinggo. Padahal tempat yang kita tuju jauh dari situ!
Dengan semangat ala personel “Survivor”, kita yang sama-sama “fakir pulsa” mencoba mencari jalan keluar dengan tanya-tanya ke warga, menelusuri kata kunci yang kuingat dari Ayahku…

“mudun nang dalan arah nang PDAM Kab. Probolinggo”

Akhirnya, setelah mondar-mandir nggak jelas sambil nunggu telepon Ayah, di sebuah toko aku bertanya. “Sekitar 3 km ke arah utara mas”, jawab penjaga toko tadi. Dhueeerrr!! Lemes deh aku. Tapi dengan semangat ala “Survivor” lagi, kita berjalan ke arah utara.
Setelah beberapa saat, ketemu juga belokan ke kiri menuju ke rumah Pamanku yang aku tuju (memori yang ada di kepalaku sebelum berangkat cuma : jalan beraspal yang diapit dua rumah dan di depannya ada rel KA).
Pfiuuuhhh… lega rasanya melihat rumah Pak Hud setelah sekitar 5 menit berjalan di tengah teriknya panas bulan Maret (yang seharusnya musim hujan).
Mampir sebentar di situ, karena rumah Pamanku masih harus jalan kurang dari sekilo lagi.
……….

Sengaja aku berhentikan di sini, kisah selanjutnya standard soalnya… hehehe.

Tagged: ,

§ 2 Responses to not another teenage story

  • dewiiwed says:

    ini ta yg mau di comment in???

    olahraga, mas. nu xperience ma mas wayan.

    ghaniarasyid answers :
    yup, betul sekali. olahraga? masak siang-siang olahraga? hehehe

  • dhany says:

    masih mending kalo ndak musim angin mas…

    ghaniarasyid™ answers :
    Maksudnya piye tho?😕

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading not another teenage story at chasing the pretty rainbow™.

meta

%d bloggers like this: