the family diaries

June 22, 2010 § 28 Comments

Bagi saya, keluarga adalah harta yang sangat berharga apabila dibandingkan dengan dunia seisinya. Harta, kekayaan dan kawan-kawannya apabila hilang tentunya masih bisa dicari bukan? Sedangkan keluarga, apabila hilang… mana bisa dicari lagi? Oleh karena itu, (sepertinya) saya selalu mengutamakan kepentingan keluarga dulu melebihi kepentingan pribadi akhir-akhir ini.

Kisah ini bermula di tahun 1986, tepatnya sekitar setahun setelah Ayah dan Ibu saya menikah. Ibu yang kala itu hamil muda mengalami keguguran karena agak sedikit kurang hati-hati dalam merawat kehamilan, kemudian dilakukan pembersihan di rahim. Salah satunya mungkin berawal dari Ibu saya yang kurang suka makan buah-buahan dan nekat naik motor sendiri ke sekolah (Ibu saya guru SMP). Kala itu tidak terjadi masalah apa-apa, bahkan di tahun 1987 saya lahir dengan selamat ke dunia.

Masalah itu dimulai pada tahun 2001, saat saya kelas 2 SMP. Ibu mengalami periode haid/menstruasi yang sedikit tidak lazim, kemudian memeriksakannya ke bagian kandungan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Hasil diagnosa menunjukkan Ibu mengandung kista di ovarium sebelah kiri. Setelah be-rembug dengan Ayah dan saya, akhirnya diputuskan untuk mengangkat kista tersebut di RS Adi Husada, Undaan, Surabaya.

Proses operasi ini berjalan lancar dan cepat… tapi sayangnya keluarga kami tidak melakukan follow-up pasca-operasi yang baik. Tidak pernah melakukan kontrol secara teratur (hanya kadang-kadang saja dan makannya masih sembarangan). Sampai akhirnya peringatan itu muncul…

Sekitar bulan Juli-Agustus 2009, Ibu mengalami haid/menstruasi yang agak sering. Kemudian beliau kami (saya dan Ayah) periksakan ke dokter spesialis kandungan, dan hasil diagnosa membuat jantung berdegup kencang: ada tumbuh kista/tumor di ovarium yang sekarang di sebelah kanan. Sedikit tegang dan bimbang, kami sekeluarga memilih untuk mendiskusikannya terlebih dulu dengan beragam kemingkinan.

Medis vs Tradisional

Mungkin pertarungan antara dua hal tersebut-lah yang sedikit membuat kami agak belum bisa menentukan pilihan. Hingga akhirnya kami diberi sedikit pencerahan oleh seorang teman:

…pengobatan secara medis lebih bisa dipertanggungjawabkan daripada pengobatan tradisional. apalagi kalau pengobatan medis tersebut dilakukan oleh dokter yang ahli/sudah terkenal…

Akhirnya operasi mantap dilakukan di RSUD Dr. Soetomo meskipun tidak di Graha Amerta-nya (entah kenapa kami sekeluarga sepakat tidak menyukai “swasta”-nya RSUD Dr. Soetomo yang terlalu mewah ini). Memakai peruntukan seharusnya bagi keluarga PNS: ASKES. Akan tetapi, karena Ibu saya minta dioperasi secara privat oleh dokter kepala bagian kandungan, kamar rawat inap-nya pun diberi yang privat juga (dan harus disyukuri… Alhamdulillah).

Hasil diagnosa stadium kanker ini yang membuat keluarga kami berubah sejak Januari 2010. Kanker Ovarium yang diidap Ibu berada pada stadium antara IIIC-IV, yang berarti bahwa ini adalah kanker yang masuk kategori ganas.

#fightformymom

Perjuangan. Ya, saya dan Ayah harus berjuang demi kesembuhan Ibu. Perjuangan ini tentunya juga membutuhkan banyak pengorbanan. Misalnya saya yang harus beberapa kali bolos kuliah (kuliah semester paling dan paling terakhir) serta Ayah yang harus berkali-kali ijin pulang untuk mengurus registrasi kemoterapi Ibu.

Kemoterapi-nya ternyata agak berbeda dengan yang pernah saya dan keluarga dengar. Ternyata untuk kasus kanker Ibu saya, seri kemo-nya harus menginap 3 hari di RS, hal ini sebagai pertimbangan bahwa kanker yang dialami Ibu saya masuk stadium ganas dan berada di organ vital. Untuk kemoterapi-nya, lagi-lagi keluarga saya memilih untuk tidak berada di Graha Amerta. Tapi Alhamdulillah, Ibu selalu berada di kamar Kelas I atau Kelas II bila Kelas I penuh (maklum, ini RS yang jumlah pasiennya “se-Indonesia Raya”).

Ternyata pilihan untuk tidak berada di Graha Amerta itu memiliki hikmah yang luar biasa. Di instalasi rawat inap bagian penyakit kandungan “Merak” itu, saya bisa melihat dengan mata dan hati saya sendiri bahwa para pasien dan keluarganya saking seringnya ketemu dan berinteraksi, akhirnya bisa jadi teman akrab dan saling memberi dukungan. Hampir tidak ada raut wajah sedih yang tampak di antara pasien-pasien di instalasi rawat inap itu (berupa aula besar yang disekat oleh dinding alumunium sebagai penanda kelas kamar). Saya terkadang berpikir dalam hati, Ibu saya tentunya tidak akan bisa terhibur dan bersemangat seperti ini apabila berada di kamar yang lebih “mewah”. Sungguh Allah menunjukkan jalan-Nya yang pada awalnya terlihat rumit dan aneh, tetapi ada manfaatnya di baliknya…

Rangkaian kemoterapi itu berakhir pada 3 Mei lalu, setelah menjalani enam seri secara lengkap. Setelah kemoterapi, ada diagnosa dan kontrol lanjutan yang membuat kami berada dalam dua pilihan: mengikuti agenda dari RS atau ditangani privat oleh dokter ahli kanker dari RS tersebut.

Akhirnya, pilihan jatuh ke dr. Brahmana, sang menantu mantan Gubernur Jawa Timur, Imam Utomo. Pada Senin, 14 Juni 2010 lalu, seri kedua kontrol dan injeksi hormon endrolin (yang akan dilakukan selama dua tahun ke depan, sesuai perkembangan kondisi) pada Ibu saya menunjukkan hasil menggembirakan: sudah tidak tampak adanya sel kanker saat didiagnosis, akan tetapi masih perlu kontrol selama dua tahun ke depan.

Alhamdulillah… ternyata #fightformymom itu terjawab oleh Allah🙂

“even if the rain always wins
and forces my eyes shut, to dream of.
I’ll still dream of brighter days…”
Umbrellas and Elephants by Cinematic Sunrise

Tagged: , ,

§ 28 Responses to the family diaries

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading the family diaries at chasing the pretty rainbow™.

meta

%d bloggers like this: