going indie

August 9, 2010 § 40 Comments

Indie yang saya bahas di sini adalah independent music. Disebut independent karena sifatnya tidak komersial, atau analoginya mereka ingin bilang “musik adalah sebuah karya seni yang layak dinikmati oleh semua orang, tanpa harus mengeluarkan banyak uang”. Pada kenyataannya, artis indie tetap membutuhkan “bantuan” dari para penikmat seni mereka, tapi tidak se-materialis mereka yang memang menjual karya seni-nya dengan tujuan komersial.

Mungkin banyak dari kita yang agak asing dengan musik semacam ini, karena harus ada “upaya” untuk bisa mendengarkannya. Sehari-hari kuping kita dari kecil selalu “dijejalin” dengan berjuta-juta lagu yang berasal dari major label, mulai dari lagu anak-anak, remaja, dewasa, hingga reliji. Jadi, apa salahnya suatu saat kita beralih dari hal-hal yang populer kan?🙂

Ya, ya, saya sepertinya sudah memenuhi kriteria dari gambar di atas… sepatu saya Converse, potongan rambut saya emang mirip gitu. Saya juga (masih bisa) main gitar yang masih ngepol di akustik saja (semoga suatu hari bisa dapet Epiphone Joe Pass Emperor II yang legendaris itu😛 ). Cuma sayang media musik yang saya dengerin udah ga berupa piringan apapun, I grateful thanks to Peter Sunde and his The Pirate Bay😛

Untuk urusan selera, musik indie dari Indonesia agak kurang begitu bisa “nyetel” di telinga saya. Dulu sih sempet suka dengan Mocca (gara-gara film Catatan Akhir Sekolah) atau Sajama Cut (“agak” shoegazing). Tapi selebihnya mereka agak membosankan bagi saya, “terlalu idealis”. Semoga hanya sentimen dari saya yang terlalu western-minded untuk urusan musik. Meskipun begitu, saya salut dengan salah satu bentuk penjualan karya mereka yang berada di distro-distro (baca: tempat yang sangat pas untuk indie culture).

Di negara barat, indie culture menurut saya sudah menjadi pop culture. Tinggal selera tiap orang yang menentukan dia memilih menikmati musik major atau indie. Banyak sekali band indie yang bahkan secara tidak formal menjadi major gara-gara kepopulerannya. Terimakasih banyak untuk “jejaring sosial yang berlandaskan musik” seperti Myspace, Last.fm, Purevolume, Youtube, atau juga Absolutepunk. Sayangnya saya juga menjadi salah satu korban dari jejaring sosial tadi (what a shame:mrgreen: )

Membahas indie music tidak lengkap bila tidak membahas band-band yang berada dalam lingkarannya. Berikut ini akan saya review beberapa band indie scene favorit saya. Silahkan menikmati bagian review singkat berdasarkan abjad ini…🙂

Cinematic Sunrise

Hey, menutupi wajah mereka dengan balon warna-warni bukan berarti band ini pemalu:mrgreen: . Itu adalah sebuah gambaran bahwa band bentukan Craig Owens, vokalis band Post-hardcore bernama Chiodos ini, punya semangat untuk tersenyum dan membuat orang lain tersenyum (setelah tema yang membuat depresi di Chiodos). Mereka memang tidak mengusung indie pop/rock, mereka lebih ke Punk Pop dengan balutan keyboard/piano. Kalau di Indonesia, hampir mirip Pee Wee Gaskins lah, minus perilaku menyimpang mereka dan electronic-punk tentunya😛 .

Sayangnya, band ini termasuk berusia singkat (2006-2009) karena awalnya hanya “kerjaan iseng” si Craig di sela menganggur dari Chiodos (dia didepak pada 2009 lalu). Itulah yang membuat satu-satunya album EP mereka yang berjudul “A Coloring Storybook and Long Playing Record” menjadi semacam barang langka yang layak diburu oleh kolektor (seperti saya ini😛 ).

Lihat kan? Judge the music/album of a band by it’s cover🙂 . Seperti cover-nya, isi dari album ini begitu bright. Sungguh berbeda apabila dibandingkan saat kita mendengarkan lagu-lagu Chiodos, bahkan saya sampai tidak kuat mendengarkan keanehan musik Chiodos saking bingungnya (gabungan SaosinMy Chemical RomanceThe Used-dan band² “emo” yang pernah anda tahu). Bagi yang beruntung beli versi hard dari album CinSun ini, bonusnya bisa bikin tersenyum cerah: buku gambar dengan tema binatang yang ada di cover album ini + pensil warna🙂

My favorite song from this band: “If Lilly Isn’t Back by Sunset” in re-release EP album (2008)

Personnel: Craig Owens (vocals, guitars), Bradley Bell (keyboards/piano, backing vocals), Bryan Beeler (guitars), Marcus Van Kirk (bass) and Dave Shapiro (drums)

Circa Survive

Band ini begitu dekat di hati kami yang pernah sakit hati (baca: emo kids era of 2005’s). Semuanya berkat sang vokalis, Anthony Green, yang dulunya sempat membawa kami dalam lautan emosi dan melodi bersama Saosin (halah!😛 ). Band ini punya root indie yang sangat kuat, terlebih lagi mereka mengusung musik yang tidak lazim bagi telinga dan hati mayoritas orang (Progressive Rock/Experimental Rock/Ambient Rock). Tapi itu yang malah menunjukkan mereka bukan band biasa, penuh skill dan talenta yang tidak terjangkau oleh band yang mementingkan sisi komersial.

Ada satu statement mereka yang saya sukai di blog mereka suatu hari yang lalu, “Buy it or not, we appreciate your support to our creativity”. Juga harus diakui bahwa blog saya ini kebanyakan terinspirasi dari band ini. Mulai dari topics, tags dan juga judul yang selalu “rata bawah”. Saya dikenalkan pada band ini oleh seorang teman (yang sayangnya anonim) di Friendster di tahun 2006-2007 lalu. Baru saat itulah saya benar-benar menikmati musik dengan hati, bukan hanya telinga dan mata🙂

Aneh? Ya, dari cover itulah yang menggambarkan bagaimana musik Circa Survive. Mereka punya musik yang disebut “ber-tekstur aneh” dengan warna vokal yang tidak biasa, agak sedikit magis dan mungkin hanya bisa dipahami oleh kita yang memang punya niat untuk menikmatinya (no offense😛 ). Mereka punya total tiga album, dan album dengan cover di atas adalah favorit saya sekaligus yang terbaru, “Blue Sky Noise” (2010). Sebenarnya semua album mereka rata-rata atas, tapi kebanyakan orang agak “tidak tahan” dengan tekstur yang terlalu aneh pada “Juturna” (2005) dan “On Letting Go” (2007). Album Blue Sky Noise adalah album mereka yang easy-listening, apalagi setelah mereka memutuskan untuk masuk ke major label. Agak disayangkan juga… Tapi Blue Sky Noise adalah masterpiece🙂

My favorite song from this band: “On Letting Go” in On Letting Go album (2007)

Personnel: Anthony Green (vocals, guitars), Colin Frangicetto (guitars), Brendan Ekstrom (guitars), Nick Beard (bass), Steve Clifford (drums)

Straylight Run

Yeah, I love NYC too🙂 . Band ini sangat berkaitan erat dengan Taking Back Sunday. John Nolan dan Shaun Cooper adalah gitaris dan bassis TBS di era “Tell All Your Friends”. Sementara itu, Michelle Nolan-DaRosa adalah backing vocal TBS. Karena perbedaan pandangan dan tidak mau terus menerus berada dalam kondisi depresi, si John membentuk Straylight Run yang lebih bright dibandingkan TBS, meski temanya kadang tetap pada sakit hati.

Band yang mengusung pure indie rock ini menurut saya agak sedikit eksperimental pada setiap album atau EP-nya. Kadang bisa agak nyerempet ke area “emo”, kadang juga sangat indie folk. Tapi ada dua kelebihan mereka: lirik yang bermakna dalam dan musik yang catchy dengan balutan piano/keyboard.

Sayangnya pada 2007-2008 Michelle meninggalkan band ini untuk fokus ke band yang lebih mewakili dia, Destry. Sementara itu trio John-Shaun-Will tampaknya agak sedikit bingung menentukan kelanjutan band ini. Pada Februari 2010 band ini memutuskan untuk indefinite hiatus dan John + Shaun dikonfirmasi bakal bereuni dengan TBS lagi. Sepertinya ini akan menjadi era baru bagi TBS… are they’ll going indie (rock)?🙂

Album Straylight Run yang saya suka justru pada EP terbaru mereka, “About Time” (2009). Liriknya benar-benar mengena di hati saya, dibalut aransemen yang sedikit emosional. Terlebih juga karena album ini dilabeli “langka”, karena dijual hanya via download di website mereka. Album debut mereka “Straylight Run” (2004) juga bagus, sayangnya agak sedikit “raw” di sana-sini meski punya hits yang bagus. Album sophomore, “The Needles The Space” (2007) malah kurang cocok di telinga saya karena terlalu indie folk.

My favorite song from this band: “I’m Through with The Past (but The Past Isn’t Through with Me)” in About Time EP album (2009)

Personnel: John Nolan (vocals, guitar, keyboards/piano), Michelle Nolan-DaRosa (vocals, guitars, keyboards/piano), Shaun Cooper (bass), Will Noon (drums)

Tegan and Sara

Mirip? Seperti satu orang yang sama? Ya, mereka adalah si kembar identik di indie scene yang legendaris dari Kanada, Tegan Quin dan Sara Quin🙂 . Saya mungkin sampai sekarang agak kesulitan membedakan siapa yang Tegan dan siapa yang Sara kalau saja mereka tidak punya tato😛 . Di foto di atas, yang bernama Tegan adalah yang pake kemeja kotak-kotak. Itulah yang unik dari duo grup ini, mereka punya originality sesuai dengan kepribadiannya.

Tegan lebih tomboy dan “galak”. Lagu yang dia ciptakan selalu bernuansa rock/punk-ish. Sementara itu si Sara lebih girlie dan suka menciptakan lagu yang terkesan “cute” dan electronic-minded. Mereka termasuk duo indie yang kurang dikenal sampai pada album “So Jealous” (2004) yang berhasil masuk ke jajaran mainstream indie scene, terlebih ada “Where Does The Good Go?” yang jadi OST serial Grey’s Anatomy🙂

Musik yang mereka miliki tergolong easy-listening karena lebih mengedepankan sisi akustik dan folk, terutama di album yang membuat mereka “sepertinya” agak masuk ke dalam emo scene, “The Con” (2007). Sementara itu, “Sainthood” (2009) akan saya bahas di bawah ini…

Album ini memang se-elegan cover-nya. Tegan and Sara sebelum album ini dirilis, dikenal sebagai duo yang agak kurang pas kalau bermain sebagai band, terutama apabila digabung dengan additional musician yang mereka miliki. Tapi di Sainthood ini mereka lebih keras, lebih electronics/new wave, lebih indie dan satu hal yang paling penting: terasa benar-benar sebagai sebuah band yang komplet. Tidak ada lagi acoustic guitars di sini, semuanya diganti dengan electrics. Tapi kekompletan dan lirik yang menjadi trademark dari Tegan and Sara adalah senjata utama bagi betapa suksesnya album ini🙂

My favorite song from this duo: “Sentimental Tune” in Sainthood album (2009)

Personnel: Tegan Rain Quin (vocals, guitars, keyboards), Sara Keirsten Quin (vocals, guitars, keyboards), Edward Gowans (guitars, keyboards), Shaun Huberts (bass), Johnny Andrews (drums)

That’s all, folks! Thanks for reading my long review🙂

—–

That’s who I was when we first met in cathartic song
When I became the patron saint of the depressed and neglected
I left those days, those places and that person all on tape
Absolved, I resolved to start again and never look back…

~by Straylight Run

Tagged: ,

§ 40 Responses to going indie

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading going indie at chasing the pretty rainbow™.

meta

%d bloggers like this: